c5s

[complete.colorful.comfortable.cheerful.creative] school


You are not connected. Please login or register

Trick and Treat

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Trick and Treat on Mon Nov 23, 2009 8:40 pm

Aqua Deviara


9th Grade Student
9th Grade Student
Jangan Lupa setel Lagu Trick and Treat-nya Kagamine Rin n Len ya sambil baca~

------
“Malam halloween sebentar lagi!”

Teriakkan itulah yang sering terdengar di kelasku hari ini, tanggal 31 Oktober. Malam ini, malam yang dikenal sebagai ‘Malam Halloween’ akan segera tiba. Malam dimana para makhluk halus menampakkan diri. Malam dimana kita akan memakai kostum seram dan mendapat tipuan atau kudapan dari orang-orang terdekat.

Aku, Seireen, Meicha, Meichi, dan Meichu sudah lama berangan-angan untuk pergi ke pesta halloween. Hanya menjadi angan-angan karena kami belum pernah pergi ke pesta halloween selain saat kami berumur kira-kira lima sampai enam tahun. Membuat pesta juga membutuhkan modal banyak, kekreatifan tinggi, dan keberanian.

Ketika kami sedang berangan-angan, Kathleen datang menghampiri. Kathleen, teman sekelasku yang paling tertutup dan pendiam, memberi kami lima buah kartu ungu. Setelah kubuka dan kubaca, aku menjerit senang disusul oleh teman-temanku. Kathleen tersenyum kecil melihat reaksi kami. Bagaimana tidak menjerit? Hal yang kami angankan tahu-tahu menjadi kenyataan!

“Aku pasti ikut! Di halaman belakang rumahmu pukul sembilan malam? Bukan masalah!” seruku pada Kathleen. “Ya, aku juga mungkin ikut,” kata Seireen. “Mana mungkin kami tidak ikut? Kami pasti datang!” sahut si kembar tiga, Meicha, Meichi, dan Meichu. Senyum Kathleen mengembang. Ia menunduk sopan, lalu menyebarkanundangan pestanya yang langsung disambut anggukan atau jeritan setuju.

--------------------------------------

“Oi Trisha, kostummu kreatif sekali!”

Aku tersenyum lebar. Siapa sangka rok meah kotak-kotak, kemeja putih, dan jaket hitam bekas ibuku dulu bisa di padu padan menjadi kostum vampir yang sempurna? Buktinya, aku dibilang kreatif.

Rumah Kathleen terletak di perumahan yang kecil. Dari depan rumahnya, memang tidak terlihat ramai seperti ada pesta. Tetapi jika kau pergi ke halaman belakang.. Di sanalah teman-teman sekelasku berkumpul dan asyik mengobrol sambil mengambil kue-kue dan limun yang di sediakan. Bulan purnama ikut menyinari pesta meriah ini.

Seireen memakai kostum penyihir. Meicha, Meichi, dan Meichu sama-sama memakai selimut putih. Ketua kelas kami, Carol, memakai baju hitam, kuping dan ekor kucing hitam. Aku penasaran, bagaiman adengan kostum Kathleen? Pasti bagus sekali.

Tiba-tiba, aku mendengar suara lirih memanggil namaku. Aku menoleh ke belakang, lalu mendapati Kathleen yang memandangku ketakutan. Awalnya aku bingung mengapa ia ketakutan. Tetapi setelah melihat lebih teliti lagi, aku mengerti. Kathleen belum memakai kostum.

Aku menghampiri Kathleen. “Kathleen, mana kostummu?” tanyaku heran. “E.. Entahlah.. Aku tak dapat memutuskan..” Kathleen menoleh ke kiri dan ke kanan, seolah berharap tidak ada yang mendengar. “Trisha, maukah kau membantuku memilih kostum?” tanyanya malu-malu. Aku mengangkat bahu. “Mengapa aku harus berkata tidak?” jawabku sambil tersenyum.

Kathleen menarik tanganku ke dalam rumah, naik ke atas melalui tangga, dan sampai pada ruangan kecil yang rapi dan apik. “Ini kamarku,” kata Kathleen. “Maaf berantakan. Beginilah kalau tinggal sendiri, malas mengurus segala sesuatu.”

Aku duduk di kursi belajarnya sementara ia mengobrak-abrik lemari. Setelah itu, ia mengeluarkan terusan putih, seragam SMP ala jepang berwarna hitam, dan baju perawat. “Menurutmu, mana yang cocok untukku?” tanya Kathleen. Aku diam berpikir, mencocokkan penampilan Kathleen dengan jejeran kostum yang tersedia di depannya.

Tak lama kemudian, Kathleen berkata “Silakan pilih yang mana saja, aku tak keberatan memakai yang mana saja. Tetapi sekarang aku ke toilet dulu.” Aku mengangguk. Menurutku, memutuskan yang mana merupakan hal yang cukup sulit. Karena rambut Kathleen yang panjang dan hitam juga matanya yang coklat cocok berada dalam segala kostum.

Setelah lama aku memilih, akhirnya pilihanku jatuh pada baju suster. Menurutku, Kathleen akan sangat manis memakainya. “KATHLEEEEN!! KEMARILAAAH!!” Teriakku dari kamarnya. Kathleen datang dengan napas terengah-engah. “Terima kasih,” katanya. “Bisakah kau tunggu di luar dulu sementara aku ganti pakaian?” “Ya, ya. Baiklah, aku keluar,” ujarku.

Ketika aku sampai di taman belakang, aku membelalakkan mataku. Seluruh teman-teman sekelasku, mereka... Sudah dalam kondisi yang tidak normal dan tidak bernyawa.

Aku melihat kepala Seireen yang terpisah dari tubuhnya. Matanya masih membelalak. Bekas darah di matanya terlihat jelas. Aku melihat usus Carol yang terburai keluar dari perutnya. Aku melihat kaki si kembar tiga terpotong dan bola matanya tercungkil satu-satu.

Tidak hanya mereka, semuanya juga mati. Ada yang lidahnya terpotong, dadanya bolong, tangannya hancur, kakinya terpelintir, kepalanya pecah, sampai yang otaknya terurai keluar. Aku hanya bisa merinding di tempat. Kaki dan tanganku seolah membeku. Bibirku bergetar. Mataku tidak dapat berkedip. Mengapa.. Mengapa pesta yang seharusnya menyenangkan ini menjadi taman mimpi buruk begini.

“Pertunjukan mereka bagus sekali bukan?”

Aku melirik ke belakang. Aku melihat Kathleen yang sudah memakai kostumnya. Aku membalikkan badan, menatap Kathleen dengan tatapan marah bercampur takut. “Kamukah.. Kamukah yang melakukan semua ini hai Kathleen?” tanyaku lembut dengan bibir bergetar. “Ya, memang aku,” jawabnya santai.

“Kathleen! Berani sekali kamu! Aku akan menelpon polisi!” Aku merogoh kantong di jubahku, mencari telepon genggam. Baru aku menghadapkannya ke wajahku, aku mendengar tembakan beruntun yang langsung menghancurkan telepon genggamku. Aku mendongak. Benar saja, Kathleen yang menembakkan. “Cara yang bagus untuk menghindar,” ucapku kurang ajar. “Tapi kamu tidak akan bisa menghentikanku menelpon polisi.”

“Kalau begitu, kuhancurkan saja tanganmu,” kata Kathleen sambil menembak tanganku terus menerus. Aku merasa sangat kesakitan. Rasa marah dan takut langsung digantikan dengan rasa sakit yang menyeluruh. Kathleen menghampiri lalu menjambak rambutku sampai wajahku menatap wajahnya.

Sambil melupakan rasa sakit, aku bertanya pada Kathleen “Mengapa.. Semua ini.. Kamu lakukan?” Kathleen menjawab, “Karena aku tidak menyukai tidak ingin melihat kalian lagi. Menurutku, kalian memuakkan. Kalian lah yang membuatku menjadi anak terpencil di kelas dan tidak exist.” “Ada apa.. Dengan kami.. Kami bisa berubah..” Aku makin tak kuat menahan sakitnya kedua tangan yang sudah menjadi bubur. “Ah, sudah terlambat,” kata Kathleen.

Aku merasakan dua tembakan lagi dari punggungku. Agaknya sudah merobek jantungku. Penglihatanku makin samar. Kalau tidak salah lihat, Kathleen membawa segenggam permen jelly di tangan kirinya, dan pistol di tangan yang lainnya. Ia mengarahkan pistolnya tepat di atas ubun-ubunku. Tak lama kemudian aku melihat permen jelly yang berjatuhan dan merasakan sakit yang membunuhku akibat tiga tembakan di ubun-ubunku.

“Trick and treat.. Kau dapat kudapan, juga tipuan. Happy Halloween Trisha.”

Lihat profil user http://www.demashitappgz.co.nr/

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik