c5s

[complete.colorful.comfortable.cheerful.creative] school


You are not connected. Please login or register

Gotirz Short Stories...!

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

1 Gotirz Short Stories...! on Sat Jun 13, 2009 12:29 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
Bukan Mahabarata
Debu yang tebal menggumpal berterbangan ketika aku masuk ke gudang itu. Gudang biasa, di loteng pula. Aku mencari berkas – berkas pekerjaan dari kantorku yang dulu. Yah, namun sudah terlanjur kulempar ke gudang. Kalau bukan untuk pekerjaan, aku pun tidak sudi mengorek gudang yang super kotor ini.
Tumpukan demi tumpukan buku kugeledah satu per satu. Tidak ketemu juga. Ayolah, itu kubutuhkan untuk besok! Tapi aku tetap tidak menemukannya. Frustasi karena tidak mendapatkannya, aku menendang tumpukan buku di hadapanku.
BRUK!!
“Bima, ada apa?!” Teriak ibuku dari lantai bawah karena mendengar suara jatuh.
“Nggak! Nggak apa-apa!!” jawabku setengah kesal. Ingin rasanya kusobek tumpukan-tumpukan buku itu. Kuambil satu dari ratusan buku yang berserakan. Ingin kurobek dengan marah, namun karena melihat judul buku itu, amarahku menguap. Malah membawaku mengingat masa laluku, dan keluargaku. Buku itu berjudul “MAHABARATA”.

10 Tahun lalu...
“Hhh..” aku menghela napas panjang hampir tiap hari di jam yang sama. Pada jam istirahat ini, aku selalu saja merasa semua berjalan seperti cerita Empu Kawa, tentang Mahabarata. Mahabarata? Ya, ayolah, jaman sekarang, jika kau bercerita panjang lebar di depan kelas saat jam kosong tentang bagaimana sulitnya kehidupan Pandawa Lima, atau bagaimana makmurnya negara Hastina, tak akan ada satu orang pun yang menoleh padamu. Tidak satupun, aku berani jamin. Mereka akan lebih suka membicarakan tentang Naruto, si ninja Jepang, ataupun Harry Potter, penyihir dari Hogwarts yang selalu sok keren itu. Ya, sejujurnya juga aku tidak berminat kepada cerita dari bangsa India tersebut, tetapi karena namaku,nama kedua saudaraku, dan berbagai jalan kehidupan kami bertiga yang membuatku merasa harus mengetahui tentang cerita Mahabarata.
Dan saat jam istirahat seperti ini,jika kau tahu cerita Pandawa Lima, kau akan tertawa terbahak-bahak setiap hari. Kau akan lihat kakakku, Yudhistira, duduk dengan tenang di sudut kantin sambil membaca buku yang tebalnya melebihi kamus Inggris-Indonesia di lemari bukuku. Ia akan membaca dengan serius,mata berkerut, kacamata menantang, sambil sesekali menyesap teh panas, minuman favoritnya. Dan tak jauh dari tempat Yudhistira berada, kau akan menemukan adikku, Arjuna. Dia sedang makan,asik bersama segerombolan cewek-cewek entah dari kelas mana saja. Setiap hari, Arjuna tak pernah duduk di kantin sendirian. Jika terjadi, namanya bencana alam. Selalu saja ada gerombolan cewek yang mendekatinya dan mengajaknya makan bersama. Kalau Yudhistira, cewek yang menemaninya hanya Anita, sahabatnya sejak kecil.
Pemandangan menyedihkan.Yudhistira yang terlalu jujur, dan Arjuna yang kadang sombong dengan ketenaran dan ketampanannya.Tetapi, karena aku telah mempelajari cerita Mahabarata,dimana sifat kami bertiga terlukis dengan tegas sebagai Yudhistira-Bima-Arjuna(Tanpa Nakula dan Sadewa tentunya,karena ibuku terlalu renta untuk melahirkan dua anak kembar sebagai pelengkap Pandwa Lima),aku merasa aku harus selalu menjadi penengah diantara dua saudaraku itu. Yah, lebih susah memang jika berada di tengah orang baik namun munafik, ketimbang di tengah orang yang jelas baik dan orang yang jelas jahat.
Sejujurnya aku agak malu memiliki nama dengan tokoh cerita pewayangan itu. Kesannya norak. Buat apa sih, ayah menjeplak nama dari cerita pewayangan seperti itu? Mentang-mentang nama ayahku Pandu, jika di cerita pewayangan itu, Pandu adalah raja dari kerajaan Hastina sekaligus ayah dari Pandawa Lima. Apakah ayahku berniat membuat keluarga kami menjadi seperti di cerita pewayangan itu?! Untung saja ibuku tidak bernama Dewi Kunti.. Dan untung juga kakekku tidak bernama Hastina Pura. Kalau iya, lengkaplah sudah pemerannya

Tapi, karena sifat kedua saudaraku yang terlihat sempurna tetapi memiliki kelemahan, masalah bisa datang kapan saja. Dan itu adalah suatu hal yang sangat kutakutkan. Jika Arjuna murka,itu sesuatu yang tak terelakkan. Biasanya Arjuna semakin marah pada Yudhistira karena Yudhistira terlihat selalu tenang menghadapinya. Arjuna bisa saja menghancurkan pintu kamar mandi dengan sebelah kaki, namun Yudhistira hanya akan tersenyum tipis,lalu meminta maaf pada Arjuna, sekalipun ia tidak salah. Dan semua akan berakhir dengan happy ending.
Namun tidak hari itu. Hari dimana terjadi sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya.Hari itu,sejak pagi Yudhistira uring-uringan. Perkara cinta, biasalah. Anita, sahabat sekaligus gebetannya itu ternyata menyukai Arjuna, saudara kami yang tampan nan angkuh itu. Tapi seperti biasa pula, kakakku yang penuh wibawa itu akan berusaha mengalah sebisanya pada adik-adiknya.
“Udahlah, kakak gak harus mengalah di setiap hal kok! Ini kan masalah perasaan kakak juga!” Kataku berapi-api. Lama-lama aku gemas juga melihat tingkah kakakku ini.
“Tapi gak bisa. Anita suka sama Arjuna. Aku juga tidak bisa melakukan apa-apa.”
“Hhh... Yaudahlah, sabar aja.”

Siang menjelang, aku dan Yudhistira baru pulang dari toko buku. Rumah kosong, karena ayah dan ibu pergi entah kemana. Saat aku membuka pintu kamar, aku menemukan hal yang tak terduga. Disitu ada Arjuna. Lengkap dengan suntikan narkotika beserta puntung rokok yang bertebaran di lantai.Arjuna tersentak kaget. Aku dan Yudhistira tidak kalah kaget.
“Apa-apaan kamu!?” Teriak Yudhistira, mengambil suntikan dari tangan Arjuna dengan paksa.
“Aku...Aku Cuma...Aku Cuma..”
BUK! Yudhistira memukul Arjuna sampai bibirnya sobek..
“Apaan!? Cuma apaan?! Cuma apa,hah!? Jawab!!” Yudhistira murka. Baru sekali ini aku melihat kakak kesayanganku itu marah. Marah sekali.
“Heh,bisa marah juga, kak?!” Tantang Arjuna. Lalu ia meludahkan darah yang mengalir dari bibirnya ke wajah Yudhistira.Yudhistira semakin murka, tangannya mengepal, siap untuk memukul Arjuna kembali.
“Udah!Udah!! Kalian berdua kenapa sih!Enggak ada ceritanya Arjuna berantem sama Yudhistira, tau!!” Aku berusaha melerai mereka berdua. Susah payah kudorong Yudhistira sampai jatuh terduduk agar menjauh dari Arjuna.
“Biarin aja, Bima! Aku ingin tahu, gimana cara dia memukuliku lagi, hah?!”
“Eh, sudah tau kamu tuh salah! Jangan bikin masalah jadi tambah runyam deh!!” Arjuna terdiam. Aku mencengkeram kerahnya, Yudhistira mencoba meminta penjelasan.
“Arjuna!! Kau itu tau kan, semua yang kau pakai barusan itu barang haram! Kau gak seharusnya....”
“Enggak seharusnya aku make barang itu, iya kan!!? Udahlah, aku sudah hapal! Kakak tuh yang sok! Yang sok tenang, sok bijak! Apa-apaan tuh?! Malu aku punya kakak seperti kamu! Sok jujur tau gak!” Arjuna meledakkan segala amarahnya.
“Tau apa, kamu!Jangan asal ngomong ya, dasar anak kecil!!” Yudhistira bangkit dan berlari. Berlari cepat, entah kemana. Tiba-tiba saja,udara terasa menyesakkan. Aku seolah tak bisa bernapas karena begitu sesak rasanya.Kamar dimana kami biasa tidur bertiga terasa sempit sekali.Ternyata banyak perasaan – perasaan yang memenuhi ruangan itu. Perasaan kasat mata yang tak pernah kulihat sebelumnya. Perasaan iri, dengki, sakit hati, marah, sedih, terpukul, terkucilkan, kesepian, dan berbagai perasaan yang menyedihkan. Dan aku baru tahu itu. Ternyata diantara mereka berdua terdapat berbagai macam perasaan yang tertutupi, atau sengaja ditutupi. Dan aku kesal. Aku menyesal. Sebagai seorang adik dan kakak,aku tidak tahu itu semua. Aku tidak tahu.
“Ngapain kamu, make barang begini segala?!” Kataku akhirnya, pada Arjuna yang masih terpaku.
“Aku....Aku baru nyoba aja.”
“Nyoba?! Kemana aja pikiran kau, hah!? Sepertinya aku dan Yudhis tidak pernah mengajarimu untuk memakai barang beginian,ya!?”
“...Ini... Ini Cuma buat pelarian.”
“Pelarian apaan?! hidupmu kurang bahagia apa lagi,coba?!Muka ganteng, cewek banyak, kakakmu tuh selalu ngalah sama kau,hidupmu berkecukupan,ayah sama ibu baik sama kau. Kurang apalagi coba!!?” teriakku. Sebegitu tidak bersyukurnya kah adikku ini?
“Anita, Bim.. Anita...”
“Ah? Anita? Anita temennya Yudhis!?Kenapa lagi sama Anita!!”
“Dia...Aku suka sama dia. Tapi..Dia selalu maen sama Yudhis melulu...Aku....Aku,,..” Dalam waktu singkat, amarahku meledak sedemikian rupa.
“Dangkal!! Pikiran kau tuh dangkal!!” Teriakku sekeras yang aku bisa sambil menempeleng kepala Arjuna.
“Anita! Anita! Anita sahabat Yudhis, kan!? Kamu tau, Yudhis suka sama Anita! Tapi Anita bilang sama Yudhis kalau dia suka sama kamu!! Puas?!”
“Ta...Tapi...” Arjuna nampak tidak percaya.
“Tapi apa!? Yudhis udah berusaha mengalah sama kamu!Sebagai kakak, dan sebagai cowok yang tahu diri!” Aku terus memojokkan Arjuna karena rasa kesalku sudah diubun-ubun.
“Aku....Aku...”
“Apa!!! Kamu tidak menghargai kakakmu itu sama sekali! Kau...”
“Aku enggak tahu!!!” Jeritnya frustasi.
“Aku enggak tahu,aku engga tahu!! Yudhis engga bilang padaku, kan!? Mana ku tahu kalau Anita suka sama aku! Mana aku tahu, Bima! Mana aku tahu!!”
“Kalau begitu, kenapa kau tidak bilang...” Kata-kataku terputus. Aku menyadari sesuatu, suatu kenyataan bodoh! Mereka berdua,saling menutupi perasaan satu sama lain! Dan itu...Itu menyebabkan kesalahpahaman yang lebih fatal daripada dugaanku.

Setelah keadaan mereda, Arjuna berjanji padaku untuk tidak memakai barang – barang itu dan meminta maaf pada Yudhistira jika ia pulang nanti. Ayah dan Ibu yang baru pulang tidak merasakan keanehan pada situasi Arjuna ataupun aku.
Namun aku tetap tidak bisa tenang. Aku mencemaskan Yudhistira. Selama ini, ia selalu mengalah pada Arjuna dan aku sekalipun. Dan aku hampir tidak pernah melihat dia mengamuk seperti tadi. Sekalipun dia orang yang selalu jujur, tapi ia tidak pernah menunjukkan perasaannya yang asli. Kemungkinan ia terluka hatinya oleh Arjuna. Pastilah! Yudhistira yang selalu mengalah pada Arjuna ternyata tidak dihargai sama sekali oleh adiknya itu.
“Bima, Yudhis kemana? Kok gak balik-balik?” Arjuna cemas juga nampaknya.
“Mana aku tahu! Baru sekali ini dia ngamuk, Jun! Dia pasti sakit hati banget!” Arjuna kembali terdiam. Ayah dan ibu diam saja. Mereka pikir Yudhistira hanya pergi seperti biasa. Kami berdua juga tidak berniat memberitahu apa yang telah terjadi.
Malam menjelang, dan masih tak ada tanda-tanda Yudhistira. Handphonenya yang tidak bisa dihubungi membuatku semakin cemas tak tertahan. Arjuna juga terlihat cemas dan wajahnya pucat, stress menahan rasa bersalah.Sampai telepon rumah berdering dengan nyaring,mengagetkanku yang duduk terbengong-bengong menunggu Yudhistira. Ibu yang sedang membaca buku di dekat telepon langsung mengangkatnya.
“Halo?”
“Ya, betul..”
“Ada apa ya?”
“.....” Wajah ibu pucat, dan ia langusng menangis, menjerit memanggil ayah di kamar.
“Pandu...!!!”
Ayah yang mendengar jeritan ibu bergegas turun, begitu juga aku dan Arjuna.
“Ada apa,bu?!”Tanya ayah cemas.
“Yudhis...Yudhis...Yudhis meninggal...!!!”
Ayah terdiam. Arjuna terduduk lemas dan menangis. Menangis keras. Sedangkan aku hanya bisa terdiam, bingung. Aku tidak percaya, aku tidak percaya kalau Yudhistira, kakakku si manusia jujur itu akan meninggalkan aku dan Arjuna dalam keadaan salah paham yang belum terselesaikan! Aku menyambar gagang telepon yang nampaknya masih terhubung pada polisi yang menemukan Yudhis.
“Halo?Halo?!” Kataku cepat.
“Halo?Masih saya bicara dengan anggota keluarga Yudhistira?”
“Ya,benar. Maaf,kakak saya sekarang berada dimana,ya?Dan ia kenapa?”
“Dia tewas seketika saat menyeberang jalan. Ketika lampu merah, ada sebuah truk yang menerobos dan menabrak kakak anda. Sekarang ia ada di rumah sakit.”
Aku tercenung. Lalu ayah mencoba bicara pada polisi yang menelpon. Kecelakaan? Yudhistira?Kecelakaan?Kenapa ia harus kecelakaan sekarang!? Kenapa ia harus meninggal saat kami bertiga sedang berseteru!? Kenapa!!
Setelah berbiacara sesaat dengan polisi di telepon, ayah menyuruhku menghidupkan mobil, ayah berusaha menenangkan ibu,lalu bersiap ke rumah sakit. Arjuna yang masih menangis kuseret ke mobil.
“Sudahlah! Sudah!” Teriakku di mobil karena mendengar tangisan Arjuna. Sambil menunggu ayah yang menenangkan ibu di dalam rumah, aku berusaha menenangkan Arjuna sembari men-starter mobil. Tiba-tiba handphoneku berbunyi tanda sms masuk.
“Juna, bacakan smsnya dong!” Kataku, karena tanganku sibuk menghidupkan mobil.Arjuna mengambil handphone dari saku belakangku.
“Yudhis.” Katanya serak.
“Hah?Apaan?”
“Yudhis...Ini sms dari Yudhis.” Arjuna kembali menangis.Kusambar handphoneku dari tangannya dan membaca sms itu dengan cepat. Memang benar,itu sms dari Yudhis. Karena ada masalah jaringan, smsnya baru diterima operatorku saat ini. Alisku naik sebelah saat membaca sms Yudhis. Ingin rasanya aku berteriak dan menangis.
“Baca! Baca nih,sms dari kakakmu!!” Kataku pada Arjuna yang masih menangis. Arjuna merebut handphoneku. Ia tak kuasa berkata-kata.
“Baca yang keras! Bacakan aku!”aku ikut menangis.
“...Bi..Bima..Sampaikan maafku untuk Arjuna. Aku juga minta maaf sama kau. Kalau seperti ini aku jadi bingung harus mengalah bagaimana lagi..Aku bingung. Tapi apapun akhirnya, apapun yang terjadi padaku, itu tanda dariku bahwa aku sudah mengalah, karena aku tidak tahu lagi harus mengalah seperti apa. Dan aku sudah tidak sanggup membohongi diriku sendiri. Arjuna benar. Aku hanyalah seorang kakak yang memalukan......” Arjuna menangis ketika selesai membaca sms Yudhis. Aku ikutan menangis. Apa maksudmu, Yudhis? Apa itu artinya kematianmu adalah bentuk rasa mengalahmu pada kami?

Beberapa hari setelah kematian Yudhis, sesuatu yang tidak beres menghampiri keluarga kami lagi. Arjuna, adikku si tampan itu, masih shock tingkat tinggi. Ia hanya diam dikamar saja. Ia tak berkutik dihadapan ayah, ibu, atau bahkan psikiater yang menanganinya. Tapi ia akan bicara lancar jika hanya berdua denganku. Meskipun yang ia bicarakan hanya hal yang sama, berulang kali.
“Yudhis...Yudhis... Yudhis meninggal karena aku!” Teriaknya padaku.
“Enggak... Itu bukan salahmu.. Itu takdir.” Jawabku tenang.
“Yudhis...Yudhis!!”
Dan ia akan meracau. Meracau tentang Yudhistira. Psikiater yang menanganinya mengatakan bahwa Arjuna sudah mengalami sedikit gangguan jiwa akibat shock akan kematian Yudhistira, dan rasa bersalah yang menghantuinya karena belum minta maaf atas kejadian waktu itu.
Mendengar semua itu, aku hanya bisa tertunduk lesu. Hancur sudah Pandawa di keluargaku. Kini tinggal BIMA. Tanpa YUDHISTIRA dan ARJUNA. Bahkan ini tidak ada dalam cerita Mahabarata favorit ayah, dimana ia terinspirasi memberi nama pada kami bertiga. Ya, jalan ceritanya tidak setragis ini. Karena memang,ini bukan Mahabarata.

“Bima, Bima? Suara jatuh apa tadi?” Suara ibu menggema dari lantai bawah.
“Buku,bu! Buku yang jatuh!” Kataku, lalu merapikan buku yang berserakan di lantai.
Setelah bersusah payah mencari dokumen itu, aku menemukannya dan turun ke lantai bawah,sekalian membawa buku MAHABARATA tadi. Lalu aku melesat ke kamar.
“Yudhis...Yudhis...” Arjuna sedang duduk di sudut kamar,sambil mencoret-coret kertas. Meski keadaannya belum berubah banyak, ia lebih baik daripada yang dulu-dulu.
“Arjuna....Arjuna...” Panggilku. Ia menoleh. Yah, perkembangannya, ia sudah bisa diajak berinteraksi. Namun ia jadi nampak seperti orang yang memiliki keterbelakangan mental. Ya, adikku yang tampan nan angkuh kini tak berdaya di sudut kamar mengenang mendiang kakaknya.
“Kak Bima, kak Bima...!!” Katanya sambil cengar-cengir dengan tatapan mata kosong.
“Kakak punya cerita buat kamu..” Kataku sambil menunjukkan buku MAHABARATA tadi. Ia memandang penuh tanda tanya.
“Judulnya, Mahabarata.”



.........

mohon saran n kritiq

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

2 Re: Gotirz Short Stories...! on Tue Jun 16, 2009 6:09 pm

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
[suer dah panjang banget ^^; ]

belon himeh baca xD~ ntar offline aja bacanya ,ol brikutnya baru komen xD~ hhe .

bdw ,penpik-penpik gothir yg di yakitate kok banya yg TBC sih?!! SAMBUNGIN DONG!! *ngedemo*

yg ini TBC ato kaga?? *ilfeel ama TBC garagara KCB [ktika cinta bertasbih] ==; *


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

3 Re: Gotirz Short Stories...! on Fri Jun 19, 2009 6:58 am

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
hahahahaa,,, yg di yakitate emng sengaja,coz katanya kepanjangan. nih enggak TBC kok, tpi kalo emang pada males baca kepanjangan,kyou bikin bersambung,hehehe

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

4 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jun 20, 2009 11:42 pm

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
@^: LANJOOOT DONG!! saia mo liat gmn perjuangan si Bima bangkitin lagi adek nya ,Si Arjuna

-----
buat yg laen .mau liat hasil karya Gothir a.k.a Kyou jugag? nih saia post gulingguling
*ditabok gothir* tapi ,yg udah tamat/ gg TBC yak .=33 soalnya ,yg TBC ntar bakal saia post *tanpa ijin dari si gothir* setelah cerita 'Bukan Mahabrata' nya tamat

xD~

@gothir: nih himeh post aja yak xD~ gg ada editan dari himeh loh .murni dari sono nya gulingguling

Karya Pertama Si Gothir

Ayah Nomor Satu Di Dunia


Kemana engkau pergi?
Kenapa tak kudapatkan engkau disini?
Kemana engkau pergi?
Padahal rumahmu ada disini.

Aku berlari namun tak jua kau tampak. Aku menangis tak jua kau muncul. Aku bosan menatapmu berada di dalam bingkai foto terus menerus. Aku bosan bacakan surat Yasin untukmu, karena aku ingin melihatmu.
Rumah menjadi sepi tanpamu. Tak adalah asap rokok mengepul disana. Dan tak ada lagi yang mengusap kepalaku bagaikan aku anjing peliharaanmu sambil berkata, “Kau anak pintar.”
Suara langkah mu, suara seretan tongkat keramatmu tak lagi terdengar. Siulan mu yang norak, yang biasa kau gunakan untuk memanggilku dari kejauhan seperti seekor burung, tak lagi memanggilku.
Aku merindukanmu. Sungguh tanpa ada kebohongan. Aku ingin melihatmu, memelukmu, mencium pipimu, dan mendengar nasihat-nasihatmu dengan kata-kata yang setajam pisau, yang sering menikamku dan membuat benciku padamu bertambah lagi. Tapi aku rindu semua itu.

Siapa lagi yang akan memujiku?
Siapa yang akan dengarkanku?
Siapa yang akan menemaniku?
Siapa yang akan membelaku?

“Tak ada lagi, gadis kecil, tak ada lagi...” seolah malaikat pencabut nyawa bicara padaku, mengingatkanku bahwa ia telah mencabut nyawamu. Entahlah, aku tidak mengerti apakah aku mengikhlaskan kau, atau aku tak terima kenyataan bahwa kau lenyap sudah dikebumikan.
Tak ada yang membangunkanku tiap pagi dengan percikan sisa air wudhu-mu, yang kadang membuatku mencak-mencak menahan amarah.
Kau memang tak setaraf dengan wanita pendamping hidupmu. Ia lulusan Universitas, sedangkan kau hanya lulusan STM, kau tahu kan?
Namun kau lebih banyak ajarkan hal berharga padaku.
Kau ajarkan pedihnya kehidupan, kau ajarkan susahnya untuk menentang arus takdir. Kau ajarkan caranya bersabar, menunggu kaki dan tangan kirimu pulih, sembuh dari lumpuh. Kau juga ajarkan cara menjadi seorang manusia yang tegar, kau ajarkan cara menjadi manusia yang akan masuk surga. Kau ajarkan caranya untuk marah, kau ajarkan cara untuk merajuk.

Tapi kemana kamu!? Aku bosan menunggumu. Banyak hal yang ingin kukatakan padamu.
“Rumah jadi makin hancur, Yah.”
“Kasihan ibu, Yah.”
“Keluarga kita diinjak-injak, Yah!”
“Aku sekarang kelas dua SMP, yah!”
“hei lihat, aku jadi sekretaris OSIS, yah!”
“aku berhasil membuat banyak cerpen, yah!”
“Sekarang aku mengikuti lomba puisi, Yah!”
“Dan kau ada disini, di tulisanku ini, Yah!”
“Dan... apa kau tau ayah? Kau belum ajarkan aku membuat puisi tau! Kau pergi begitu saja! Aku kebingungan membuat semua ini. dan satu lagi, kau belum ajarkan aku tentang rasa iri. Aku iri, melihat teman-temanku. Semua punya ayah. Ada yang setiap pagi diantar ayahnya, yang pulang dijemput ayahnya. Jika pengambilan rapor, tak sedikit para ayah-ayah itu datang berduyun-duyun. Tak perduli berapapun nilai anak mereka, tetap saja mereka datang dengan senyum. Aku ingin kau ada disitu, yah! Sekali saja, ambil raporku, yah!!”

“Dia takkan dengar semua itu, anak manis.” Suara itu lagi. Dasar pencabut nyawa!
“Dia sudah bukan bagian dari dunia nyata lagi, kau mengerti?”
“Dia takkan berada disampingmu lagi!”
Dan pencabut nyawa itu pergi. Tapi lalu ia kembali lagi,
“Apa ada pesan untuknya? Tapi jangan sebanyak tadi, aku susah mengingat itu.”
Aku tersenyum kecut, dan menyahut,
“Kau ayah nomor satu di dunia.”

sumpah deh .himeh baca yg ini ,jd ngerasa banyak salah ama ppa

T^T

gothir says: REVIEEEW!!

xD~


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

5 Re: Gotirz Short Stories...! on Tue Jun 23, 2009 5:56 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
aaawww co cweet...hahahahaa*padahal bikinann sndiri...
thankyou hime,jadi go ga perlu post ulang,wkwkwkwkwkw


Bukan mahabarta ga KCB,itu end of the end, (halah) tpii klo lagi ada inspirasi*wkwkwkw boleh juga kyou bikin lanjutannya...
tunggu cerita selanjuutnyaaa!

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

6 Re: Gotirz Short Stories...! on Wed Jul 01, 2009 1:11 pm

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
AYO!! MANA LANJUTANNYA >___< kan himeh udh lama gg ol .kok belon *tariktarik gothir* *disepak*

err---selain yg disini... maksud himeh yg di yakitate, himeh tungguin lanjutan Jalanku masih Panjang sama Aku dan Seorang Dede!! xDb

Karya kedua [ingat! saia cuman post yg udah tamat a.k.a THE END doang! xD~]
without editing ^^

Little Wonder


Oh, namaku Senja. Tahu nggak, yang memberiku nama siapa? Yang memberiku nama adalah Fajar! Fajar bilang, bahwa dia memberiku nama sepasang dengan namanya. Dia Fajar, sedangkan aku Senja. Aku dan Fajar berbeda dua tahun. Meski baru dua tahun, Fajar yang tetanggaku itu sangat menginginkan seorang adik perempuan. Begitu aku lahir dan keluarga Fajar menjenguk (Keluarga Fajar dan keluargaku sobatan), Fajar bilang bahwa ia bersemangat sekali. Fajar menanyakan namaku pada ayahku saat itu. Namun, ayahku belum menemukan nama yang tepat. Fajar juga bilang dia mengajukan namaku, yaitu Senja Langit. Yah, cukup berpasangan dengan namanya yang Fajar Surya. Dan usul Fajar diterima, so, nama pemberiannya melekat padaku bertahun-tahun sampai saat ini. Fajar adalah the best human in my life, forever and always. .
Fajar sangat bercita-cita menjadi animator, atau membuat anime di Jepang. Meskipun cowok, ia tergila-gila sekali dengan manga(komik Jepang) dan anime(kartun Jepang) juga semua yang berbau ke- Jepang-Jepangan. Ia bercita-cita untuk bisa melihat bunga sakura di musim semi. Ia selalu berkhayal, seandainya bisa tinggal di Jepang, dia ingin membeli rumah tradisional Jepang, lengkap dengan lantai tatami, pintu geser dari bambu, tidur beralaskan futon, dan tak lupa, dihalamannya harus ada sederet pohon sakura. Kalau pun nggak, dia ingin menjadi presiden dan membuat Indonesia menjadi Negara maju seperti Jepang (wah, ini sih ketinggian banget, yak!) Tapi itulah hebatnya dia. Cita-citanya yang besar, sebanding dengan niat, usaha, dan semangatnya yang juga besar dan menggebu-gebu. Begitulah sedikit gambaran tentang sahabatku, Fajar Surya sahabatku sejak aku kecil. Dia benar-benar sosok seorang teman sejati

“ Senja, Senja!!” Teriak Fajar tergesa-gesa dari koridor di depan ruang komputer ke lapangan; saat itu aku sedang latihan basket. “Apaan?” Kataku. Sesaat ia mencermati sekitarku. Masih banyak senior dan memang latihanku belum selesai. “Oh.. Nggak. Nanti tungguin aku ya, kalau mau pulang.” Katanya kikuk, sadar mata para senior bin alumni yang sedang mengajar ekskul basket tertuju padanya.
Usai latihan, aku menunggunya di pintu gerbang. Ia menghampiriku. Kulihat matanya berkilat-kilat, napasnya menggebu bersemangat. Kenapa sih, ni anak? Sejenak ia mengeluarkan secarik kertas dari dalam ranselnya. Aku membaca tulisan di kertas itu.
PENGUMUMAN!!
BOEAT KAMOE- KAMOE YANG TERGILA-GILA SAMA
YANG NAMANYA JEPANG, IKUTI DEH, PERLOMBAAN INI!
BUAT NASKAH NOVEL ATAU DIALOG (DRAMA)
YANG BERHUBUNGAN DENGAN JEPANG TENTUNYA.
JUMLAH HALAMAN, CARA NULIS, DAN SEBAGAINYA BEBAS, TERSERAH KAMU YANG MAU BERKARYA! LEBIH BAGUS KALAU DISERTAKAN ANIMASI DAN GAMBAR PENDUKUNG.
JUARA 1 SAMPAI 3 AKAN MENDAPATKAN
BEASISWA SEBESAR Rp35.000.000,00 JUGA TIKET LIBURAN KE JEPANG
DAN JUARA HARAPAN JUGA AKAN MENDAPAT TIKET LIBURAN KE JEPANG. TRUS, SEMUA JUARA YANG TERPILIH
KARYANYA AKAN DI BUAT ‘MANGA’ DAN ANIME-NYA OLEH PARA PENGARANG YANG TERLIBAT DALAM PANITIA LOMBA INI!
BURUAN KIRIM KARYAMU! KARYAMU DITUNGGU SAMPAI 5 MINGGU MENDATANG!
GANBATTE YO!

Membacanya saja membuatku merinding! Gila banget hadiahnya, si Fajar pasti mau ikut lomba ini. Sejenak ku tatap dia. Yang kutatap hanya cengar-cengir senang. “kamu mau ikut?” Tanyaku. “ Tentu saja!! Kau dukung aku, ya!” Jawabnya berapi-api. Dan semuanya telah dimulai.




Minggu ke 1
Fajar sibuk kesana kemari mencari bahan. Begitu kutanya, bukan bahan tulisannya yang dicari, melainkan gambar pendukung dan sebagainya. “Masalah ide cerita, aku sudah dapat, yang penting sekarang gambar pendukungnya!” Begitulah jawabannya ketika aku bertanya. Bahkan sekarang dia getol sekali ke ruang komputer sekolah yang bebas dipakai setelah jam sekolah untuk mencari bahan di internet. Sibuk-sibuk dan sibuk. Sekarang gantian aku yang menunggunya sepulang sekolah.

Minggu ke 2
Ia sudah mulai menulis. Waktu kucoba mengintip-intip tulisannya, dia ngomel-ngomel, lho! Nggak tanggung-tanggung, wajahnya memerah seperti kepiting rebus setengah matang, hihihi… Aku jadi makiin penasaran aja, nih! Apa yang dikerjakannya, ya?

Minggu ke 3
Waduh, Fajar sakit! Wajahnya pucat sekali! Ia ambruk di ruang komputer. Segera saja dengan susah payah aku memapahnya pulang, karena ruang kesehatan di sekolah sudah dikunci. Esok harinya, begitu kutanya ibunya Fajar, katanya Fajar Cuma kecapekan saja. Lalu Fajar bed rest selama 1 Minggu. Wah, gimana ini! Tinggal dua Minggu lagi, kan!?

Minggu ke 4
Fajar bed rest, tapi masih kekeh menulis dengan laptopnya. Ibunya marah-marah dan memintaku untuk membuatnya berhenti untuk menulis seperti setan sambil menangis-nangis. Karena tak enak hati, aku sanggupi. Ketika aku masuk ke kamar Fajar, nampak Fajar yang lain. Ia sedang mengetik seperti orang kesambet, sungguh!
“ Fajar… Fajar…” sapaku. Ia tak menggubrisku. “Jar! Fajar!” Aku menjadi panik dan mengguncang-guncangkan tubuhnya. Tiba-tiba, wajahnya kembali normal. “ lho, ngapain kamu? Mau merkosa aku!?” Ledeknya sambil menatap kedua tanganku yang masih menggenggam pundaknya ( di tempat tidur, lagi…! Kyaaa…)
“Ap—Tidak!” Aku terperanjat dan melepaskan tanganku. “Kamu.. Tadi kenapa, sih!? Seperti orang kesetanan menulis seperti itu, membuatku takut.” Lanjutku. Ia hanya menggeleng, “ Aku harus cepat menyelesaikannya. Taukah kau, Senja, ini akan menjadi karya masterpiece ku! Dan seandainya menang, namamu juga tercantum.” Jawabnya. “ Lho!? Kok” Aku bingung. “ Karena itu cerita tentang kita. Dan kamu, adalah adikku yang paling baik. Meski bukan adik kandung, aku sudah bersyukur bisa berteman denganmu. Biarkan aku selalu menjadi temanmu ya, kapanpun, dimanapun, forever and always!” Aku mengangguk. Entah mengapa… Fajar menjadi seperti ini.



Minggu ke 5
Hari ini hari Jumat. Aku sedang ngobrol di teras rumah dengan Fajar, mendiskusikan batas waktu penyerahan naskah hari lusa.
“ Besok, aku harus benar-benar menyelesaikannya.” Kata Fajar. “ Tapi jangan terlalu memaksakan diri…” Sahut-ku. Ia tersenyum. Senyum yang berbeda.
“ Hei, Senja..” Aku menoleh. “ Seandainya aku ulangtahun nanti, kapanpun deh, bisa dua tahun lagi, sepuluh tahun lagi, pokoknya ulangtahunku yang keberapapun, aku ingin kau sekali saja memberikanku hadiah.” Aku menatapnya serius.”Bukankah setiap kau ulangtahun aku selalu memberimu hadiah?” Tanyaku. “ Tapi ini beda. Aku ingin kau memberiku bunga sakura, lengkap dengan rantingnya ya, yang asli. Ya? Ya? Kapanpun bisa, deh! Akan kuterima! Sekalipun kau memberikan bunganya di atas makamku, akan tetap kuterima!” Jawabnya berapi-api. Buseet sampai segitunya. “ hem…? Okelah.” Sahutku, tidak serius.

Hari Sabtu, hari terakhir. Besok naskah sudah harus dikirim. Aku masih memegang bola basket, sambil menunggu Fajar yang masih sibuk di ruang komputer. Aku duduk di bawah pohon. Kuamati sekolah. Sudah sepi. Bahkan mungkin penjaga sekolah sudah pulang. Sekolah ini seolah punyaku dan Fajar saja. Karena suasana yang mendukung, dan aku memang ngantuk, Aku tertidur di bangku taman, sampai lalu aku bangun. Rupanya sudah sore. Matahari senja bersinar meredup. Kemana Fajar? Mestinya dia sudah pulang! Tiba-tiba, hape ku bergetar dan nada dering suara sms berbunyi. Begitu kubuka, isinya…

FROM : BaBang FaJ4 R..zzz

Senja, tlg bsk km krim naskhnya ya!
Anggp ja tu nskhmu. Klo mng, gnakan beasswanya baik2.
Trus…Biarkan aq ttp jd shbt kamu, forever n always, ya?
And…. Aq tggu bnga sakura-na lho!


Ha? Kok dia sms aku seperti ini? Perasaanku nggak enak. Aku menelponnya.
Begitu tersambung, aku mendengar suara nada dering handphone Fajar bergema dari ruang komputer. Namun tak kunjung diangkat. Dengan waspada, aku masuk ke dalam ruang komputer. Kutemukan ia sedang tidur di meja, sambil memeluk naskahnya yang sudah di cetak. Tapi… sementara hapenya maish berdering, ia tak kunjung bangun. Padahal hapenya ada dalam genggamannya. “ Jar!Fajar!fajar!” teriakku panik. Begitu kuguncangkan kembali tubuhnnya, ia hampir tersungkur. Tubuhnya sudah mendingin plus bibirnya sudah agak berwarna ungu. Seketika aku tahu, Fajar pergi. Fajar sudah pergi. Fajar, sahabatku, temanku, abangku. Hal yang paling aku benci, kehilangan orang yang sangat tak kuinginkan kehilangannya. Dan aku menangis.

Esok hari….
Fajar diduga meninggal akibat serangan jantung. Ia juga kelelahan. Uukh… Aku jadi tak bisa berhenti menangis. Aku sudah kirimkan naskahnya, rupanya cerita itu berjudul “ Fajar Usai, Senja Menyingsing” dan itu semua tentang pengalaman hidupnya di minggu-minggu terakhir, tentang bagaimana dia membuat naskah ini, dan tentang aku. Uukh… Dan di akhir bukunya, ditulis tangan olehnya : Aku tetap menunggu bunga sakuranya, lho!

Beberapa Tahun kemudian….

Hari ini, aku baru pulang. Hari ini hari ulangtahun Fajar. Yup, aku sudah kuliah di Jepang tahun pertama, dan hari ini aku pulang ke Indonesia tepat pada hari ulangtahun Fajar. Mungkin orang menganggapku aneh. Aku datang ke makam, bukannya membawa bunga atau kembang tujuh rupa dan sebagainya,aku malah membawa ranting pohon dengan bunga-bunganya yang berwarna pink lembut. Yaitu bunga sakura.
“ Jar….Fajar! Nih, aku bawain bunga sakura. Selamat ulangtahun, yak! …” lalu aku terdiam. Memandangi nisan itu. Nisan Fajar.
“ huff.. Capek juga lho Jar. Tahu gak Jar, aku ke Tokyo tower itu, lho..! Gila… gede banget! Rasanya beda sama waktu pertama kali aku ngelihat monas! Trus… aku juga ke festival musim semi! Makanya aku bisa dapetin bunga sakura itu!Rupanya pemandangan waktu festival tuh bagus bangeett…. Oh ya, dengan uangku juga, aku punya rumah tradisional di sana, lho! Ada tatami, tidur pake futon, juga pintu geser bambu. Trus, aku juga lagi mau menanam pohon sakura, lho! Rupanya sama dengan yang di komik-komik! Tapi… Ada satu yang aku nggak bisa.. Aku bisa baca tulisan kanji, hiragana sama katakana. Tapi tulisanku jelek banget. kapan-kapan ajarin aku ya, Jar! Lewat mimpi juga boleh, hehehe… Udah dulu, ya, sampe ketemu tahun depan. You are the best human, best friend in my life, forever and always!!!” Setelah aku melangkah agak jauh, aku membalikkan badan dan tertawa kecil begitu melihat makam Fajar. Makam yang berbeda daripada yang lain, karena juga hanya makam Fajar yang berhiaskan bunga Sakura yang pink meriah. Yah, semoga tahun depan aku bisa kesini lagi, ya Jar!


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

7 Re: Gotirz Short Stories...! on Wed Jul 01, 2009 2:23 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
hahahahaa,, rajin amat kau hime, ngepost ulang,hehehe...males seihh ngepost,ewkwkkw

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

8 Re: Gotirz Short Stories...! on Wed Jul 01, 2009 4:51 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
Ceritanya.... baguuuus bangeeeet... topp

Bener dah klo gak kuat hati saya bisa nangis membaca cerita anda ^_^


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

9 Re: Gotirz Short Stories...! on Thu Jul 02, 2009 10:09 am

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
@gothir: gerah aja critanya kpisah pisah gitu! >___< saia kan pmbaca setia cerpen anda <=== apasiiih!! xD~

tapi sambungan 3 cerpen yg belon selesai diatas harus diselesein loh ya~~ *ancem pake golok* xD~ *digulingin*


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

10 Re: Gotirz Short Stories...! on Thu Jul 02, 2009 4:56 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
@papi:halah...wkwkwkw betewe yg mana????hahahahaha

@hime: nyeemmmnyemmm...file nya udah ketilep >.<

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

11 Re: Gotirz Short Stories...! on Thu Jul 02, 2009 7:18 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
@Gotir
Yang kesatu dan ketiga... Ceritanya bikin sediih, terutama cerita yang kesatu... Sediiih bangeeeet ngibrit


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

12 Re: Gotirz Short Stories...! on Fri Jul 03, 2009 12:27 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
1 dan 3...
yg Mahabarata ma yg Little Wonder yaa??Hohohoho....thankyu,thankyu...
post yg mana lagi eaaa


nih, tpi kyou agak kurang pede ma yg ini

Spoiler:
F/M?

Ramai sekali bandara hari ini. Penuh sesak, sampai rasanya aku tak bisa bernapas, bahkan aku tak bisa membedakan ini bandara atau terminal Blok M. Sejak tadi aku hanya bisa duduk diam menunggu pesawat yang akan membawaku kembali ke Jakarta datang.
Di sebelah kiriku duduk seorang mahasiswa(bisa ku lihat dari jaket universitas yang dikenakannya) yang terlihat sangat gelisah. Sudah berulang kali ia melihat jam tangannya,padahal baru bereselang beberapa menit. jari-jari tangannya diketuk-ketukkannya ke pahanya sendiri, pertanda bahwa ia sangat gelisah.
Di sebelah kananku ada seorang kakek tua yang sedang terkantuk-kantuk karena terlalu bosan menunggu,mungkin. Haaaah, dengan kondisi seperti ini, siapa yang bisa kuajak bicara? Hanya ada mahasiswa super gelisah dan kakek-kakek yang ngantuk. Tak bisa kutegur sedikitpun.
Oke,oke,oke. Rasanya sudah berjam – jam aku menunggu disini,pesawat itu tak juga datang. Aku lelah harus duduk terus,tapi seandainya aku berdiri, kursiku akan diserobot orang. Hem... Aku memang harus belajar bersabar.
Akhirnya setelah beberapa jam menunggu,pesawatku dijadwalkan sebentar lagi mendarat. Tapi entah mengapa,aku merasakan panggilan alam yang tak diundang. Panggilan alam yang mengharuskanku merelakan tempat dudukku. Dan aku menenteng tas ranselku menuju toilet.Toilet wanita pastinya.
Aku cukup bergegas menuju toilet karena benar-benar kepepet. Setelah sampai, aku menatap daun pintu toilet yang bertuliskan “WOMEN”. Dengan yakin dan pasti,aku membuka pintu toilet dan menatap beberapa kaum hawa yang sedang berdandan di depan wastafel. Sontak mereka kaget dan menatapku heran. Namun tanpa berpikir yang lain lagi aku menuju ke salah satu bilik. Tiba-tiba salah seorang dari mbak-mbak yang sedang bercermin itu menegurku,dengan kalimat yang menusuk sekali,yang sama sekali tidak pernah aku bayangkan.
“Maaf mas, ini kamar mandi perempuan.” Aku langsung terbelalak,shock. Kaget. Terkejut. Aku menatap wanita itu dan menunjuk diriku sendiri. Aku tak yakin ia bicara padaku. Ia mengangguk dan tersenyum kecut padaku. Sontak aku menjadi kesal sekaligus malu. Ah bodo amat, kan aku memang perempuan!!
Langusung saja kuterobos dan aku masuk ke dalam salah satu bilik.
“Hei!” kudengar wanita itu berteriak. Ah biarkan saja.
Setelah selesai,aku keluar menuju wastafel. Wanita itu masih ada. Dia menatapku jijik. Aku biarkan dan aku mencuci tangan sekaligus bercermin. Aku tersenyum geli melihat penampilanku yang memang seperti pria. Well, aku memang sengaja memasukkan rambutku ke dalam topiku. Aku juga mengenakan kaos abangku, dan celana jeans hitam panjang dengan sepatu Converse yang sudah butut.
“Dasar tak tahu sopan santun!” kembali wanita itu menghardikku. Semua wanita yang ada di toilet itu memandangiku. Dengan sigap kubuka topiku dan terurailah rambutku yang ikal, panjang,dan tak terurus seperti gembel itu. Wanita yang sedari tadi menghardikku itu terdiam malu.
“Pria mesum sekalipun takkan berlaku bodoh dengan masuk ke kamar mandi wanita secara terang-terangan.” Kataku sambil lalu.
Sialaaaaann!! Sebegitunya kah aku terlihat sebagai lelaki!? Apa perlu aku pakai rok mini saja?! Bah!

“Gyahahaha!” Ari mentertawakanku ketika aku menceritakan kejadian kemarin itu.
“Apaan sih Ri! Malah ketawa!”
“Wahaha,ya lucu aja! Setau gue gak ada kejadian kayak gitu! Cewek ditolak kamar mandi cewek! ehehhe”
“Berisik deh Ri! Arrghh!! **&@#$****!!!”(Sensor cuy!)
“Hush! Tuh kan, kalo ngomong aja kasar begitu, gimana gak disangka cowok? Kalo cewek tuh ya,ngomongnya sopan, murah senyum, jalannya juga anggun...”
“Aah! Berisik ah! Gue udah tauuu!”
“so?kenapa gak bertingkah seperti itu?”
“Hah? Bertingkah kayak cewek?”
“Ya iyalah! Lo cewek kan?”
“Gue cewek. Tapi gak wajib kan bertingkah seperti perempuan anggun?”
“Lo lebih milih dipandang sebagai cowok, atau bertingkah seperti cewek supaya dianggap sebagai cewek?”
“Dipandang sebagai cowok. Kecuali kalau gue bertingkah sebagai cewek karena emang gue mau. Kalo Cuma untuk dipandang sebagai cewek, gue tinggal kasih lihat kartu pelajar gue ke orang-orang biar lihat jenis gender gue cewek apa cowok!”
“Refin... Lo harus belajar jadi perempuan...”
“Ck... Lo sendiri emang udah belajar jadi cowok?”
“Udah. Gue cowok kan? Lo lihat dari sisi manapun?”
“Huh... capek deh ngomong sama lo.”
“Kalo ngomong emang capek. Kalo gak mau capek ya tidur aja...hahaha”
“Gak lucu.”
Dan aku kembali ke kelasku. Lelah juga ngobrol sama Ari. Tapi lumayanlah,nambah pengalaman dibilang cowok,wahahahaha.

“Cepetan,gue tunggu disini!” Kata Ari sambil berjalan ke dalam toko buku. Aku yang kebelet langusng mencari toilet di dalam mall ini.
Oke, aku sudah pastikan penampilanku cewek. Aku buka pintu perlahan. Hanya ada mbak-mbak cleaning service. Aku bernapas cukup lega. Tapi sejenak,si mbak itu menatapku aneh.
“Loh,Mas, kamar mandi cowok di sebelah sana.” Katanya tanpa dosa. Aku membelalakkan mataku.
“Maaf mbak, saya ini perempuan.” Kataku cepat dan masuk ke bilik. Sial!!Dua kali aku dibilang cowokk!! Arrghh!!!

“hahaha!” Tuh, Ari ketawa lagi!
“Makanya jadi cewek yang bener” ledek Ari.
“Hah,sudahlah. Jangan ngeledek. Suatu hari nanti lo bakalan disangka homoan gara-gara jalan bareng gue terus.”

Aku malu. Malu pada diriku sendiri,dan pada Ari. Ayolah! Aku ini perempuan! perempuan! Aku menggerutu di depan cermin,menatapi wajahku. Menatapi diriku sendiri. Apanya yang salah sih!
Lalu,aku mencoba merubah semuanya. Semuanya. Semuanya.

“Hah!? What theee..... Lo kenapa?” Ari heran melihatku. Well, dengan rambut panjang digerai, dengan penjepit rambut warna warni, dengan bedak tipis, aku melaju ke sekolah hari ini. Dan Ari yang melihatku di gerbang hanya terbelalak kaget.
“Salah?”
“Enggak kok. Manis.” Katanya sambil tertawa renyah.
“Aah! Ari bikin malu deh! Gue jadi deg-degan!”
Ari hanya tersenyum tipis.
“Cocok kok,cocok.”
Tapi kalau boleh jujur,aku tak suka. Aku tak suka seperti ini. Berdandan seperti anak perempuan.


Siang ini semakin panas. Sebelum pulang sekolah, aku ke toilet dulu. Ari kuminta menunggu di luar.
“Heh, sekarang jadi cewek,lo?!” Anna, manusia paling brengsek, paling *&#@* di dunia itu menghardikku di toilet. Aku menatapnya garang.
“Atau sebenernya elo tuh punya kelainan?”
Plak! Kutampar wajahnya tanpa ampun. Ingin rasanya kutarik dan kupotong lidahnya.
“Sialan!” Ia mau menamparku balik, namun kutahan(kebiasaan ribut sama anak laki). Aku menamparnya lagi. Tiba-tiba gerombolan gengnya yang sok centil-centil gak jelas itu datang. Mereka mengeroyokku. Dan...Dan....memotong rambutku!!
“Sini,gue bondolin sekalian biar kayak laki!” Bentak Anna dan memotong rambutku! Aku marah, dan aku rebut gunting itu dengan paksa sampai tanganku berdarah.
“Arrgh! elo yang banci! Banci lo semuaa!!!” Teriakku.
Tapi mereka langsung menendangku keluar dari kamar mandi. Aku jatuh didepan pintu toilet cewek. Ari yang sedang menungguku keluar kamar mandi kaget melihat tangaku berdarah dan rambutku yang acak-acakkan.
“Refin! Ya ampun Re! Lo kenapa?tangan lo berdarah!” Ia menggiringku ke UKS dengan cepat.
Di UKS,aku menangis. Entah kenapa aku kesal. Kesal sekali. Disaat aku berusaha menjadi perempuan,ada saja yang menghalangi. Disaat aku menjadi seperti apa mauku, semua orang akan memandangku tak setuju.
“Ssst.... Sudah ah,masa seorang Refin nangis...” Kata Ari sambil merapikan rambutku. Ia memotongnya menjadi lebih rapi. Saat bercermin, aku benar-benar seperti lelaki.
“Sekalipun lo seperti cowok, gue gak keberatan dipanggil homo.”Aku tersenyum kecut.
“oh ya???” Aku menyeringai.
“Ha?wah,jangan-jangan lo bener-bener cowok...”
“Enak aja! perlu bukti!?” Kataku sambil pura-pura membuka kancing kemeja seragamku.
“eeee...!nggak,nggak! Gak perlu bukti!” Kata Ari sambil menutup matanya.
“Bego,nagpain juga gue buktiin sama lo. Ntar enak di lo nggak di gue,hahaha.”
“Yee...Lagipula kalaupun lo buka baju juga gak asik, badan lo kan rata, gak kayak gitar Spanyol....”
“Arii!!!*&#$^!!!!”

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

13 Re: Gotirz Short Stories...! on Fri Jul 03, 2009 3:22 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
@Gotir...

Cerpennya bener-bener deeh.... lucu bangeet... Jadi inget manga gender bender
Btw spertinya ending cerpen diatas terlalu cepat atau terlalu pendek. Seharusnya endingnya itu menjadi pertengahan cerita yang dipenuhi dengan konflik.

Saya beri cerita ini 3.5 bintang...


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

14 Re: Gotirz Short Stories...! on Fri Jul 03, 2009 5:36 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
thankyu penilaiannya....

nih lagi nih
*oh ya nama tokohnya sama sama nama HIme.. mohon maaf itu ketidaksengajaan >__<

Spoiler:
Genggaman Tangan Ayahku



Aku membuka pintu dengan napas yang berat. Ku lihat Ryon duduk di sofa ruang tamu. Alisnya bertaut ketika ia membaca koran tentang krisis global yang semakin tak menentu itu.
“Lho, sudah pulang,Egra?”
Namaku Allegra! Omelku dalam hati.
“Sudah.”
“Oh...”
Aku biarkan ia kembali berkutat dengan angka-angka saham di koran itu. Aku berlari kecil ke kamarku.Aku menatap foto ayahku di dinding kamarku. Itu foto saat ia sedang...hm... melalui gunung krakatau, sedang bersandar di haluan kapal. Wajahnya kaku seperti biasa, sama saja sepertiku. Tanpa ekspresi yang berarti.
“Ayah tahu? Aku bingung harus menjadi ‘apa’.”
Namun foto itu tetap diam. Tak ada suara, tak ada gerakan. Tetap seperti itu.
“Semua orang berisik. Semua orang yang kutemui hanya seorang oportunis.”
Foto itu tetap diam. Diam.
“Aku bosan, dan tertekan.”
Dan foto itu tetap saja diam, tak mengacuhkanku yang bersungut-sungut di depannya.

“Ryon, ayo makan. Ibu sudah selesai masak.” Kataku, memanggil Ryon dibalik pintu ruang kerjanya.
“Aku siappp...!” Katanya cepat membuka pintu dan keluar sekaligus mengagetkanku. Gerakannya cepat sekali. Aku intip dari celah pintu tadi ia masih di depan meja komputernya. Sekarang ia sudah di sebelahku,menuruni tangga menuju meja makan. Untuk ukuran orang dewasa, menurutku Ryon terlalu kekanank-kanakan!
“Makan jangan sambil melihatku, aku kan malu” guraunya di sela-sela suasana ‘dinner in the house’ yang rutin dilakukan.
“Siapa juga...” Balasku. Tapi tak mau kuperpanjang. Aku tak mau bicara banyak pada orang seperti dia. Sedangkan ibu hanya senyum-senyum seperti biasa.
Dulu, ayahku jarang sekali berada di rumah untuk makan bersama. Yah tapi sekalinya ia dirumah dan makan bersama, jatahku bisa saja direbutnya. Tapi itu yang membuatku terkesan. Setidaknya itu berarti ia tidak membenci masakan ibu. Dan sekarang ada Ryon yang tiap hari makan di rumah. Aku rikuh bila makan dengan orang yang ‘tiba-tiba’ datang di tengah aku dan ibu. Aku merasa tidak bebas.
“Tuh, jangan melihatku seperti itu...” Goda Ryon padaku. Padahal sejak tadi aku memang menatapnya, tapi dengan tatapan kosong tanpa makna.
“Jangan goda dia, Yon..” Ibuku sok membela, padahal jelas-jelas ia tertawa. Padahal aku benci bercanda dengan Ryon. Tapi ia tahu, aku yang sentimen padanya pasti akan meledak-ledak jika diledek olehnya, sehingga kejahilannya semakin menjadi. Membuatku kesal, dan hampir tak ada yang kutanggapi sebagai gurauan. Aku tak suka Ryon. Aku menghela napas, dan membawa piringku ke dapur untuk kucuci, tanpa menghiraukan Ryon ataupun ibuku. Biar saja.

“Tenang saja, tenang.... Kita tidak apa-apa. Kita baik-baik saja...”
“Tapi...Tapi ayah...huuuuuhuuuu...”
“Jangan! Kau tak boleh menangis! Sekalipun kamu perempuan, jangan pernah perlihatkan air matamu hanya karena hal yang sepele!”
Sepele?Hei, itu bukan hal sepele, tahu!
“Tapi...Tapi...”
“Tenang saja, tenang! Ibu akan datang menengokmu. Ia akan bawakan makanan kesukaanmu, baju favoritmu, mainanmu, semuanya. Lalu lukamu akan sembuh dan kamu akan pulang, lalu kembali ke sekolah.”
“Tapi, nanti ayah kemana?”
“Aku? Ah, aku sih tidak kemana-mana. Aku akan ada di sebelahmu, selalu menemanimu.”
“Kalau gitu ayah juga pulang, kan?”
“Tidak. Ayah tidak pulang ke rumah, tapi ayah tetap di sampingmu.”
“Yah?!Ayah!?”
“Ayah!!!” Oh, mimpi. Mimpi yang entah keberapa kali. Mimpi masa lalu. Hhh, lama-lama aku seperti orang tua saja, memimpikan masa lalu. Tapi, aku jadi ingin menangis. Ya, menangis, meskipun dilarang oleh ayahku. Tapi aku ingin menangis. Saat aku menyadari bahwa aku sendirian di kamar, tak ada yang membangunkanku saat mimpi buruk datang ke dalam tidurku.Dan tak ada ayah, yang menggenggam tanganku. Justru ia yang menjadi tokoh utama mimpi burukku. Dan detik ini juga, aku rindu ayahku.

Kalau kupikir-pikir, ayahku dengan Ryon sangat bertolak belakang. Ya, ayahku, pria kuat dan kasar, yang ‘cowok banget’. Yang penuh dengan pemikiran yang tak tersentuh, dengan hal-hal yang tak pernah bisa kutebak. Aku agak takut pada ayahku. Karena jika ia bicara, bahkan teriak, gelas pun bisa pecah. Suaranya besar dan nadanya keras. Tapi justru itu yang membuatku kagum padanya. Kagum sekali. Aku mengidolakannya, diantara semua pria yang ada di dunia.
Dan Ryon, ayolah, Ryon! Dia hanya pria yang kekanak-kanakan! Pria cengeng! Yang ikutan termehek-mehek jika menonton film dengan ibuku, yang peduli hal-hal detail, cerewet, tapi tak bisa kau andalkan untuk membetulkan genteng bocor. Tidak mau mengalah dan bersikap dewasa, selalu memaksakan diri untuk dianggap benar sekalipun itu salah. Memaksa masuk, bahkan mendobrak pintu hatiku, padahal belum kubukakan pintu. Tapi tetap saja aku menentangnya. Aku tak suka, karena ia tidak membuatku terkesan atau kagum. Ia hanya pria cengeng biasa. Yang naif dan sok. Sok lucu, paadahal garing, sok kuat padahal cengeng. Aku tidak suka Ryon.

Ryon memanggilku dengan nada keras hari ini. Aku kaget. Ternyata bukan ibuku yang memanggilku seperti biasanya. Ibuku memang ada, dan ia duduk di sebelah Ryon, menatap raport bayanganku tanpa ekspresi. Dan itu membuatku semakin depresi. Aku tertekan belakangan ini, karena nilai mid testku tahun ini terlalu jelek untuk kupamerkan ke makam ayahku. Ibuku takkan ambil pusing. Ia akan diam dan bicara perlahan yang semakin menggoyahkan hatiku untuk maju. Tapi kali ini beda. Ryon memanggilku ke ruang tamu.
“Apa-apaan ini!?” Bentaknya. Aku kesal. Meradang.
“...” Aku diam. Tak mau berkomentar.
“Bagaimana kau bisa dapatkan nilai ini, hah!?”
“...” Aku masih diam.
“Jawab!! Belajar apa kamu!!? Apa yang kamu lakukan di sekolah! hah!! Pacaran saja bisanya, ngegosip, jajan, beli pulsa, habiskan uang orangtuamu saja!!”
Amarahku sudah diubun-ubun.
“Kenapa nilaimu turun!! Kau mempermalukan aku....”
“Kamu? Siapa kamu?” Sahutku, diluar batas akal sehatku! Aku tak menyangka akan melawannya seperti ini.
“Allegra! jaga mulutmu!” Ibu angkat bicara.
“Biar saja, bu! Biar Ryon berpikir siapa dia!” Jawabku. Aku mengatur napasku yang sudah tak beraturan. Amarahku menggelegak. Dan aku cukup puas melihat Ryon terdiam.
“Siapa? Kamu itu siapa?” Kataku. Tenang. Datar. Bahkan tanpa nada. Dan...percaya atau tidak, Ryon menangis. Menyedihkan sekali sikapnya sebagai seorang pria.
“Aku... Orangtuamu..”
“Kau bahkan menangis.”
“Apa maksudmu, Allegra!” Ibuku sudah kehabisan cara. Ia menyerah dan tinggal menonton sepotong adegan yang tak berguna ini.
“Ya, menangis! Ibu tahu, ayah mengajariku, agar aku tak menangis karena hal sepele! Dan saat ia akan menghembuskan napas terakhirnya, ia masih mencegahku menangis dan bilang bahwa itu hanya hal sepele!! Sedangkan pria di sebelahmu itu, bu, menangis.Ya, hanya karena situasi seperti ini, ia menangis!!”
Ibu terdiam. Ryon terisak menyedihkan.
“Apa kamu bilang!? Aku itu memarahimu karena nilaimu! Kenapa nilaimu bisa seperti ini dan...”
“Dan apa hakmu?”
“Aku ayahmu!”
“Tapi aku tak mengakuimu sebagai ayahku!! Kau bahkan tak pantas menjadi ayahku!!” Aku setengah berteriak.
“Apa kamu bilang!!”
“Ya! Kau tak pantas! Kau memaksaku menerimaku, padahal, siapa juga yang menerimamu datang di hidupku!? Kau tak meminta izinku, kau hanya merecoki hidupku! Ayahku hanya ada satu di dunia, dan ia tak tergantikan oleh siapapun!!” Lalu aku berlari. Berlari keluar rumah, membanting pintu sekeras yang kubisa, berlari sekencang yang kumampu, kuterjang angin, dan kubiarkan amarah menguasai diriku. Aku butuh ayahku! Ayahku!
Aku berlari secepat mungkin, sekuat apapun, untuk berlari ke makam ayahku. Aku menangis, membiarkan air mataku terburai oleh angin. Aku berteriak sekaligus berlari. Aku tak kuat. Sekalipun aku menganggap sepele, sejujurnya ini sebuah kejutan di hidupku, dimana biasanya hidupku begitu membosankan, tiba-tiba aku terhenyak oleh persoalan rumit yang bahkan membuatku harus melakukan hal mengerikan, yaitu menentang keluargaku sendiri. Ya, ini sepele dan tak sepele, air mataku tetap mengalir. Tak kupedulikan orang-orang yang bisik-bisik melihatku. Biar saja, toh mereka tak tahu apa masalahku.
Kakiku ngilu, napasku rasanya sesak. Aku berlari nonstop dan sedikit lagi aku sampai di makam ayahku. Itu, ya, ayahku. Aku rindu ayahku! Ayahku! Aku butuh dia! Dan aku berlari. Lalu..... BRAAKKK!!
Suara apa itu? Suara benturan yang sangat keras. Tapi aku tak lihat, dan aku tak tahu apa yang terjadi. Semua gelap. Aku tak bisa merasakan tubuhku. Dan terdengar suara. Suara motor. Suara motor yang kasar. Berdenging di telingaku, menyiksaku. Suaranya yang sudah kuhapal. Itu suara motor ayahku. Yang ketika tahun lalu dijual oleh ibuku, demi membantu biaya resepsi pernikahannya dengan Ryon. Suara motor yang kurindukan.
Aku ingat. Itu suara motor ayahku, saat hari terakhir dikendarai oleh ayahku. Saat itu, ia memboncengku dengan tergesa-gesa, karena hari itu ia telat mengantarku ke sekolah. Ia cukup panik, karena sadar bahwa itu salahnya, karena ia lupa memasang jam weker, ibu dan dia telat bangun. Aku bahkan telat setengah jam ke sekolah. Aku yang marah pada ayah hanya bisa diam dan merengut. Ayah tersenyum dan meminta maaf. Ia bilang, ia menghargaiku, ia bangga padaku, karena meskipun telat, aku masih memaksa masuk sekolah. Aku terenyuh, dan memeluknya erat di boncengan. Tapi ayah masih panik dan tergesa-gesa. Membuat jantungku berdegup cepat. Ingin sekali kukatakan, “tak apa yah, tenang saja, pelan – pelan saja.” tapi aku tak sanggup. Perasaan aneh menjalariku. Sampai di perempatan, ayahku yang selalu menataati peraturan lalulintas itu menerobos lampu merah. Kenapa harus menerobos? Sebegitunya kah ia panik dan bersalah karena terlambat mengantarku ke sekolah? Dan saat yang bersamaan, mobil sedan dari arah samping menabrak kami sampai terpental. Aku terhempas di aspal yang keras dan panas, yang membuatku megap-megap.Seluruh persendianku ngilu. Dan saat aku membuka mata, ayahku masih disampingku, ditengah aspal yang keras. Orang-orang mengerumuni. Mereka hanya bisa diam menunggu ambulans. Dan aku masih ingat, tangan ayah menggenggam tanganku sangat kuat.
“Tenang saja, tenang.... Kita tidak apa-apa. Kita baik-baik saja...”
“Tapi...Tapi ayah...huuuuuhuuuu...”
“Jangan! Kau tak boleh menangis! Sekalipun kamu perempuan, jangan pernah perlihatkan air matamu hanya karena hal yang sepele!”
Sepele?Hei, itu bukan hal sepele, tahu!
“Tapi...Tapi...”
“Tenang saja, tenang! Ibu akan datang menengokmu. Ia akan bawakan makanan kesukaanmu, baju favoritmu, mainanmu, semuanya. Lalu lukamu akan sembuh dan kamu akan pulang, lalu kembali ke sekolah.”
“Tapi, nanti ayah kemana?”
“Aku? Ah, aku sih tidak kemana-mana. Aku akan ada di sebelahmu, selalu menemanimu.”
“Kalau gitu ayah juga pulang, kan?”
“Tidak. Ayah tidak pulang ke rumah, tapi ayah tetap di sampingmu.”
“Yah?!Ayah!?”
Dan genggaman tangannya melemah. Dan ayah tak pernah pulang kerumah setelahnya. Aku sangat ingin ayahku kembali. Lalu saat di rumah, ketika ayahku masih di rumah duka, semua orang menatapku kasihan. tatapan yang paling kubenci. Toh mereka tak usah mengasihani aku. Ibuku bilang, aku ini father complex, dan aku tak kuat tanpa ayahku. Ya, benar, aku tak kuat menjalani hidup tanpa ayahku. Sepanjang hari hanya kesepian yang merayapi dadaku. Terus dan terus. Rasanya tertekan dan bosan. Karena aku selalu rindu ayahku.
Ayahku... Saat ini rasanya tubuhku sakit. Tanganku dingin. Menyedihkan sekali. Aku hanya seorang yang tak punya ketetapan hati. Menyebalkan. Tapi tiba-tiba tanganku hangat. Ada yang meraih tanganku. Tangan yang hangat, menggengam tanganku dengan kuat.
“Ayah...” Tapi orang itu hanya diam. Aku berusaha membuka mataku. Itu Ryon. Siapa dia? Oh yah, dia, ayahku secara hukum, secara bahasa, tapi tidak secara biologis. Karena waktu itu aku menentangnya, ia memberikanku perjanjian. Aku diperbolehkannya memanggilnya hanya dengan nama, tak perlu panggil ayah, dan biarkan ia menikahi ibuku. Dangkal sekali.
“Maaf.” Dan ia menangis. Hei, bahkan ia tak beritahu aku ada dimana.
“Jangan menangis karena hal sepele.”
“Maaf.”
“Dimana?Aku masih hidup ya?”
“Iya... Maaf...Aku....”
“Aku kenapa?”
“Tertabrak...mobil...maaf.”
“Aku...aku yang harus minta maaf, Yah...”
Ia terkejut. Takkan ia sangka anak angkatnya ini akan memanggilnya ayah.
“Maaf....Tapi aku tahu, aku merasuki hidupmu begitu saja...Aku...”
“Tenang saja. Tenang. Kau ayahku, dan besok kita akan sarapan bersama seperti biasanya. Jangan menangis karena hal sepele, yah..” Kataku, hampir sama seperti kata ayah dulu.
“Maaf...”
“Tenang saja. Tenang saja.” Kataku. Lalu bayangan Ryon kabur. Genggaman tangannya sudah tak bisa kurasakan lagi.
“Al!? Allegra!” hei, ini rumah sakit, kan? Jangan berteriak, Ryon... Eh... Tapi rasanya tubuhku ringan sekali. Dan sekali lagi, aku merasa semuanya menjadi gelap.

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

15 Re: Gotirz Short Stories...! on Fri Jul 03, 2009 7:35 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
Ceritanya sedih banget... T_T

Cuman dalam cerita ini hubungan antara Alegra dengan Ryon lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik... Mungkin klo Ryon namanya diganti dia akan terlihat seperti ayah tiri.


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

16 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 04, 2009 5:13 pm

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
hem.....iya juga rokok hehehe....mungkin sangking Go pengen nunjukkin sifat kekanakan Ryon kali ya........

heeemm...post yg ini ah... (entah kenapa dulu go pake nama Allegra teruss..>__< gomen kalo namanya sama lagi)



Spoiler:
Aku Merindukanmu!



Dulu kita sahabat
Dengan begitu hangat
Mengalahkan sinar mentari...

Ah, lagu ini... Sudah cukup lama tak kudengar. Sejujurnya, track mp3 ini ku simpan dan ku urutkan paling jauuuhhh di playlist mp3 playerku. Tetapi entah mengapa, hari ini ,karena sudah terlalu bosan, kuputar semua lagu yang ada di perangkat teknologi yang memuat ribuan lagu itu. Dan tanpa sadar, track sudah sampai pada urutan terakhir. Yaitu lagu ini. Aku sengaja memendam lagu ini, karena bila mendengarnya aku akan mengingatnya lagi, dan rasa rindu itu akan datang menyergap, membuatku megap- megap ditengah ingatan – ingatan yang berkelebat, membuat hatiku ngilu. Ah? Oh, tenang, aku sedang menceritakan teman lamaku kok, bukan menceritakan cinta pertamaku, bukan menceritakan binatang peliharaanku, ataupun guru – guru menyebalkan di sekolahku. Temanku yang sudah cukup lama ingin kuhapus dari memori ingatanku, karena kalaupun diingat, kemungkinan aku menemuinya hanya 0,00001....% saja, hahaha.(Hei, tarif operator seluler saja kalah dengan persentase keberhasilanku menghubungi teman lamaku ini!), dan itu akan menambahkan rasa sakit hatiku karena kenyataan yang tak bisa dipungkiri : aku tak akan pernah bertemu dengannya lagi.

Dulu kita sahabat
Berteman bagai ulat
berharap jadi kupu – kupu

Namanya Rheo, teman sekelasku waktu SMP dulu. Wajahnya memang tidak se-imut Nick Jonas, pembawaannya tidak se cool Skandar Keynes, dan senyumnya tidak semanis senyum David Archuleta. Justru ia kebalikan dari semua itu. Wajahnya bulat seperti bakpao, alisnya lebat menaungi dua mata garangnya yang keruh dan suram, kulitnya terbakar matahari sampai benar – benar terlihat hitam, bukan coklat. Dan senyumanya yang lebih tepat disebut ‘menyeringai’ seperti serigala.
Awalnya aku takut sekali padanya. Bicara pun aku tergagap seperti menghadapi bos Yakuza(yah, dengan tampang yang seperti itu, pangkatnya memang harus melebihi preman kampung). Dia yang – entah mengapa- berumur jauh lebih tua dariku saat itu, duduk di belakang kursiku. Suara baritonnya mulai kentara dan acapkali mengagetkanku jika ia menegur atau berbicara padaku. Matanya yang keruh dan suram itu selalu kuhindari untuk kutatap, karena dari matanya rasanya aku bisa merasakan luka hatinya. Entahlah apa itu. Saat itu aku tidak tahu dan tidak mau tahu, mengapa sorot matanya seperti itu. Sorot mata kekosongan, suram dan keruh silih berganti. Namun terkadang matanya menjadi jenaka dan terlihat sangat jujur. Nampaknya hidupnya tidak semudah yang kubayangkan saat itu.
Aku menyayanginya melebihi teman. Aku sayang padanya, sebagai sahabatku. Sahabat yang kuakui. Saat itu, aku berselisih dengan teman – teman satu geng ku yang berbeda kelas. Mereka tidak suka aku bergaul dengan Rheo. Tapi aku memilih bersama Rheo dan berprinsip pada geng-ku bahwa “Tidak ada larangan di buku UUD manapun yang melarang warga negara Indonesia untuk bergaul dengan Rheo Khairusman!” dan tanpa dikomando, mereka menjauhiku. Alasannya mereka tidak mau aku bergaul dengan cowok berpenampilan “tidak biasa” seperti Rheo, dan status sosial yang jauh lebih rendah. Yah, alasan super dangkal dari teman – temanku itu.
Beberapa hari kemudian, aku meminta Rheo pulang bersamaku, karena aku sudah tidak ada teman seperjalanan pulang, sementara daerah sekolah kami itu sangat rawan. Rheo pun mengiyakan.
“Kudengar kau ditinggalkan teman – teman se-gengmu ya?” Katanya di tengah jalan, membuat ku terlonjak kaget karena beberapa saat yang lalu kami berdua masih dikurung sepi, sehingga pikiranku sedang tidak dibumi.
“Dasar cowok tukang gosip... Bukan masalah besar, sih.”
“Kamu ditinggalkan gara – gara aku ya?” Aku langsung pucat mendengarnya. Bingung mau menjawab apa.
‘Eh....mm.... tidak! Aku yang meninggalkan mereka kok!” Jawabku sekenanya.
“Dan kamu memilih bermain denganku?” Oh, ayolah! dia tak perlu mengintrogasiku semacam itu!
“Bukan memilih. Mereka yang membuatku harus memilih.”
“Dan kenapa memilihku? Mereka kan teman – temanmu!”
“Tapi kamu kan sahabatku!”
“Eeehh....?”
“Kamu tidak pernah melarangku untuk bergaul dengan siapapun kan? sedangkan mereka yang memberi stempel sebagai temanku, melarangku bergaul denganmu. Tidak adil. Yaa...setidaknya, aku masih memiliki teman yang lebih baik dari mereka, kan?” jelasku sambil meliriknya jahil.
“Sejauh itukah kau berpikir tentang aku?”
“Kurang lebihnya....” Dan saat itu juga, aku melihat mata keruh bin suramnya menjadi mata jenaka yang berbinar – binar melebihi dugaanku.
Setidaknya, ia benar- benar sahabatku. Tidak pernah menginginkan apa –apa dariku. Tulus ikhlas menjadi temanku. Yang mau susah payah mengajarkan matematika padaku, menemaniku pulang sekolah, menungguku selesai piket, mendengar semua keluh kesahku dengan sabar sekalian mencarikan solusinya. Begitu juga aku. Kami saling bergantung satu sama lain. Dan aku menyayanginya melebihi apapun di dunia ini.

Kini kita berjalan berjauh - jauhan
Kau jauhi diriku karena sesuatu
Mungkin ku terlalu bertindak kejauhan
Namun itu karena kusayang

Namun saat kelas 2 SMP, ia menjauh. Meskipun kami masih satu kelas. Ia mulai mendingin padaku. Entah mengapa, anak – anak lain justru menjauhinya. Kenapa? Mana kutahu. Dia saja nampak gengsi bicara denganku! Tapi aku bingung, semua anak – anak sekelas memandangnya dengan tatapan aneh. Tatapan yang merendahkan. Desas desus menyebar, tapi aku tak mau dengar. Itu gosip tentang sahabatku, karena itu lebih baik kutanya langsung, meski aku tak tahu kapan akan bertanya, dengan atmosfer suasana yang sedang kaku ini.
Suatu Minggu, dari kesekian Minggu yang kulewati dengan perang dingin sepihak dari Rheo, aku melihat dia di pelataran parkir belakang mall. Aku yang biasanya pergi ke mall sendiri dan jalan lewat pintu belakang, mendapatinya yang sedang menatapku sangsi. Wajahnya merah karena malu. Lututnya nampak bergetar. Ingin ia palingkan wajahnya, namun sudah terlambat. Aku sudah menatapinya sekian detik. Dan setelah otakku mengidentifikasi, itu benarlah Rheo. Tidak, tidak...Dia tidak sedang memakai narkoba, tidak sedang minum – minuman keras, atau malak, atau mojok dengan cewek. Justru sebaliknya, aku melihat dia, dengan kaos buntung super lusuh, celana pendek usang, dan di punggungnya, yang biasanya tempat dimana ia sandangkan tas ranselnya, kini tersandang sebuah keranjang besar. isinya plastik, bekas botol minuman, kaleng –kaleng, dan besi – besi tua. Ia memang di pelataran parkir belakang, dan kutahu untuk apa. Disitulah pusat pembuangan sampah dari satu mall. Dan astaga, ia mulung disitu!
Kami membisu dan hanya saling pandang. Ia tak berani maju mendekatiku. Karena itu, aku yang maju.
“Jadi karena ini?”
“.........”
“Tenanglah, kau anggap aku apa? hanya karena melihatmu disini lantas aku ikut menjauh darimu?”
“Tapi, aku.... Seperti ini!”
“Yaelah, seperti inilah! emangnya kamu mau jadi seperti apa?”
“......”
“Kalau malu, kenapa tidak dari dulu saja katakan, atau sekalian saja tak usah berteman denganku!!”
“Maaf.... Sebenernya...beberapa hari lalu, ada senior kita yang lihat aku mulung seperti ini. Dan... yah, dia menyebarkannya ke semua orang.”
“Dan kau pikir aku akan termakan hasutannya?”
“Tentu saja tidak...! Hanya saja, jika ia melihatmu begitu akrab denganku, bisa saja mereka juga ikutan menjauhimu.”
“Ya kan ada kamu! Aku tak peduli dijauhi atau diapakan, selama aku masih memilikimu sebagai temanku!” Jawabku mantap.
“Benar? Tidak keberatan?”
“Untuk apa? Kau memang berat, tetapi aku tak pernah berniat membopongmu kan?”
“Hahahaha.....yayaya....”
“Huh.... Sukurlah tidak seburuk yang kubayangkan! Kupikir kau menjauhiku karena apa...”
“Hm.... Begitulah. Terimakasih ya, Al!”






Persahabatan bagai kepompong
Merubah ulat menjadi kupu – kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan


Dan di season ketiga, ending dari persahabatan kami. Di kelas tiga ini, ia berbeda kelas denganku. Yah, tapi tetap tidak menggoyahkan kami. Kami tetap pulang bersama, bersenda gurau, tertawa, menangis, dan berpikir bersama. Sampai pada hari itu. Hari dimana semua suka cita kami akan tandas pada ukiran kelulusan sekolah. Sehari sebelum upacara perpisahan , Rheo menelponku. Tanpa firasat apa – apa, aku menjawab teleponnya seperti biasa.

“Al....”
“hm? apa?”
“Besok....kamu datang?”
“tentu sajalah! Besok terakhir aku bertemu dengan semua orang yang ada di SMP kita!”
“Kemungkinan besok aku tak datang.”
“Kenapa?!” aku jadi histeris.
“Aku.... Ayahku.....”
“Ada apa, Rheo....?”
“Aku tidak melanjutkan sekolah. Ayahku tak sanggup membiayaiku. Aku akan kembali ke kampung, menjadi petani , kali.”
“Apa – apaan itu!? Kau yang menasihatiku agar tidak menyerah, bukan!? Kau yang menyuruhku masuk ke sekolah yang aku mau! Kau yang seperti itu.... Kenapa sekarang kau yang mundur!?”
“Ini semua diluar kemampuanku, Alegra. maafkan aku. Warung ayahku digusur, kami semua diusir dari kontrakan karena tak mampu bayar . Tak mungkinlah hasil mulung ku bisa menutupi semuanya! Seluruh keluargaku akan kembali ke kampung, tanpa pernah menyentuh kota lagi, Al. Karena itu...mungkin ini terakhir aku bicara denganmu.”
Aku menangis. Menangis keras. Membayangkan mata kosongnya, yang suram nan keruh, yang menggambarkan kesulitan hidupnya, yang dicekik perekonomian terkutuk. Kulitnya yang hitam, yang selalu disodorkannya pada sinar matahari tiap sore untuk mengais – ngais sampah di tempat – tempat pembuangan sampah. Namun dibalik itu semua, sifat aslinya masih ada. yaitu sifat jenakanya, yang selalu timbul tenggelam diantara kepedihan hidupnya. Kesejatian dirinya tergeser sedikit demi sedikit seiring beban hidupnya.
“Al...Alegra....” panggilnya. Bulu kudukku merinding mendengar namaku disebutnya.
“Maaf Al... tapi kuharap, kita tetap jadi sahabat. Meskipun sebenarnya aku memintamu untuk melupakanku.”
“kenapa?! Kau tidak harus kulupakan!”
“Tapi jika kau ingat aku terus, dan aku mengingatmu juga, aku akan merasa sedih, merasa frustasi kalau aku merindukanmu. Karena aku tahu, kenyataannya bahwa aku takkan bisa bertemu denganmu lagi!”
“Tapi....kamu temanku! Kamu sahabatku!”
“ya. Dan persahabatan tidaklah memberatkan satu sama lain. Lupakan aku, carilah teman baru. Kalau memang kita ditakdirkan bertemu lagi, ya syukur deh...”
“Rheo....”
Nat—Nit—Nut.... koin recehan Rheo nampak sudah habis di telepon umum depan rumahnya itu.
“Allegra... Kamu....Sahabat terbaikku! Sungguh! Aku sayang padamu....”
Tuuuut....tuuut....tuuut.......

Esoknya, selama upacara perpisahan, mataku tak lelah menunggu kedatangannya. Setidaknya ia bisa meronta sedikit dari tali takdir dan datang kemari, untuk yang terakhir. Aku tak ingin pembicaraan kami yang terakhir hanya sebatas itu. Aku masih ingin membahas teori – teori alam dengannya, rumus – rumus matematika keahliannya, dan pola pola tenses kelemahannya. Aku masih ingin curhat tentang ayahku, tentang cowok idamanku. Aku masih ingin menabung diam – diam untuk membelikannya hadiah ulangtahun. Tapi sampai acara selesai, sampai aku tinggal duduk sendirian di taman sekolah, ia tak kunjung muncul. Aku tak kuasa menahan tangisku. Membayangkan betapa menyeramkannya ia saat pertama bertemu, mata jenakanya yang muncul ketika ia ‘kuakui’ sebagai sehabatku, suara baritonnya saat meminta maaf padaku, celoteh – celotehnya, komentarnya, nasehatnya, semuanya!


Duh, air mataku menetes deh! Rheo, Rheo....Apa kabarnya ya dia? Apakah di kampung ia benar- benar jadi petani? Atau ia tidak bekerja sama sekali? Atau...Atau.... Bayangan bayangan tentang Rheo silih berganti merasukiku. Ah biarlah. Untuk sekali ini biar aku mengenangnya, meskipun ada rasa ngilu di dada.
Kring! Kring!
Aku terlonjak. Telepon sialan, mengagetkanku saja.
“Halo?”
“Al.......” Suara bariton itu menyergapku, membawakanku kenangan kenangan yang lebih dari itu.
“Al, kamu masih disana? ini aku.”
“Aku tahu.”
“Aku merindukanmu!”

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

17 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 04, 2009 6:23 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
Ceritanya bener-bener unik...
Akan tetapi seharusnya hubungan Alegra dan Rheo diceritakan lebih mendetail dan dipenuhi dengan intrik-intrik sehingga hubungan mereka bisa lebih menarik perhatian para pembaca.


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

18 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 04, 2009 9:41 pm

Suck-T <3 Yoona


Cloud Teacher
Cloud Teacher
c papi sampe lebay gt, ati" Go klo c papi dah ngefans sama seseorang suka dikejar" loh sampe kawin ntar, wkkwkwkwkwkw.... wakaka


_________________
Lihat profil user

19 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 04, 2009 9:54 pm

Dachin_Ajinomotoe


High Teacher
High Teacher
suckt wrote:c papi sampe lebay gt, ati" Go klo c papi dah ngefans sama seseorang suka dikejar" loh sampe kawin ntar, wkkwkwkwkwkw.... wakaka

Kacau looh T, Papi kan cuman memberikan saran doang. Emang salah yaah ?


_________________



Senyum yang lebar yaaah.... Aaaaaa ^0^

Lihat profil user

20 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 04, 2009 11:21 pm

Suck-T <3 Yoona


Cloud Teacher
Cloud Teacher
ngga pap, canda ih. sriusan amir sih, wkwkwkkwkw....XD

ayo Go, masukkin lagi donk crita"mu.... dtunggu tuh sama papi,,,,XP
sama T juga dtunggu qo critanya, hehehehe... santai pap,,,,^^


_________________
Lihat profil user

21 Re: Gotirz Short Stories...! on Sun Jul 05, 2009 5:10 pm

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
komenkomen!!
err...buat yg banyak ini.. gadak yg TBC kan xD~ sukur deh x33 *gothir kan tipikal males ngepost penpik TBC *digiles* jgn lupa lanjutan lanjutan cerpen yg sblomnya yoo!! xD~

1 .F/M? jiahahahah!! gulingguling wkwkwk .rada mirip ama himeh pas br potong rambut .pernah tuh ditengokin ama cleaning service .dikirain cowo gulingguling tapi badan saia gg rata xDb <<merasa bruntung *ditabok* jd...gg kena tegor deh gulingguling

2 .Genggaman Tangan Ayahku WAW!! uhuu~~ himeh terharu ><; tapi...nama saia gg pake 2 ‘L’ jd gpp kalo pake nama ntu gulingguling <<suka gg trima sama skretaris kelas karna namanya seenaknya dibikin pake 2 bijik ‘L’ gulingguling tapikayaknyasaiaggsepeduliitudehsamakluargasaiasendiri xD; <<bahasa alien

3 .Aku Merindukanmu! AUOOO!! *dateng dari kebon binatang* nama saia dengan dobel L lagi gulingguling muahahah gulingguling gulingguling keren!! benerbener kebetulan!! pas lagi dipikirin ,org nya malah nelpon ><; tapi... beda arti sahabat dan temen ,trus cinta ,sayang dan benci itu emang susah ya? saia sampe skarang gg ngerti itu .mskipun udh nyari ke kamuskamus xD; ada yg bisa ngartiinnya buat himeh?? =33

@kadash: sama kak! saia jugag ngefans sama cerpencerpen si ghotir euy!! xDb


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

22 Re: Gotirz Short Stories...! on Mon Jul 06, 2009 10:49 am

Gotir_Kyou


8th Grade Student
8th Grade Student
to all : sankyu saran dan komennya
@papi: gag salah pi, justru sangat membantu
@T: sipp...masih banyak stok
@Hime: kayaknya ada 5 cerpen Go yg pake nama kamu deh,heheheh


lagi aahh,.... *lagi'' Allegra.wkwkwkwkw...
Spoiler:
Absurd

Aku menengadahkan kepala, mendongak, menatap jam di dinding yang dipasang terlalu tinggi di ruang tamu rumahku. Aku memicingkan mata, kulihat jam analog itu menunjukkan pukul 17.45. Sudah sore. Terlalu sore menurutku. Suara air hujan yang mengguyur sejak siang tadi masih terdengar jelas, bahkan sangat berisik.
Aku benci hujan. Suara tetesan air maupun suara gemuruh petir menurutku sangat berisik. Aku tak bisa mendengar suaraku sendiri ataupun orang lain. Dan rasanya dingin, lembab. Yah, sebenarnya bukan itu saja sih, alasanku membenci hujan. Ya, hujan mengingatkanku pada beberapa hal, di masa laluku, yang begitu menyesakkan. Yaitu halte, bis kota, dan surat. Tiga hal yang memilukan. Tiga hal yang menyesakkan, dan menyakitkan.
Tak terasa, air mataku menetes sendiri. Tangisku diredam suara gemuruh petir dan hujan. Ya, tanpa hujan atau petir pun takkan ada yang dengar sih, toh di rumahku sedang tak ada orang lain. Entah mengapa dadaku sesak. Tangisku tertahan. Kerongkonganku, dan ujung-ujung jari tanganku terasa ngilu. Air mata menetes tak terkendali. Dan hatiku makin sakit, saat aku sadar, bahwa saat ini, yang mendengarku menangis, hanyalah benda mati. Ya, kursi, tivi, lemari, jam, meja, dan segala yang ada di ruang tamuku. Ya, hanya mereka yang mendengarku, dan mereka Cuma bisa termangu.
Air mataku berhenti. Tersendat, karena pikiranku mandat. Aku ingat, ada yang bisa membuatku lebih lega. Aku menyeret gontai kakiku ke arah kamar. Disana, aku membuka lemari yang biasanya kukunci. Lemari berisi buku harianku, dan satu benda paling berharga, yaitu sebuah surat. Surat dari Po.
Aku mengambilnya, memeluknya, dan mencium harum kertas yang sudah lumayan lama itu. Surat yang hanya ada satu di dunia. Dan aku ingat, aku ingat semua yang menyebabkan aku bisa memiliki surat ini. Dan pikiranku melayang, ke beberapa tahun yang lalu.

Siang itu, entah berapa tahun lalu, namun tepatnya tanggal 11 November, aku berlari dari sekolah ke halte terdekat. Hujan hari itu sangat deras. Deras sekali, dan berisik. Petir dan kilat bersahutan menyambar-nyambar. Aku yang sedang kesal, marah, karena bercekcok dengan ibuku saat itu tak ingin pulang.Aku lebih memilih duduk di halte, terbengong-bengong memandangi jalanan Jakarta yang basah dan ramai suara klakson mobil yang berjalan pelan dan lambat karena jalanan yang licin.
Sampai halte itu sepi, aku masih duduk saja. Saat itulah, sebuah bis KOPAJA menurunkan seorang penumpang – pengamen tepatnya - ke halte bis dimana aku duduk bersandar. Pengamen itu kutaksir umurnya tak lebih dari dua puluh lima tahun. Ia memakai kaus hitam lengan panjang bergaris putih, topi cokelat, dan gitar besar. Kulitnya cokelat agak gosong, hidungnya besar mancung, dan tingginya beberapa senti lebih tinggi dariku.
Ia mengambil tempat duduk di sebelahku. Ia menyalakan rokoknya. Menghisapnya keplas keplus. Aku curi pandang padanya, memperhatikannya sedikit. Aku melihat matanya. Bagian luar matanya, bukannya berwarna putih, tapi berwarna keruh. Mungkin matanya iritasi, banyak dirasuki oleh zat-zat karbon monoksida dari rokok yang dihisapnya itu.
“Kok belum pulang, dek? Udah sore loh, bis udah jarang lewat.” Katanya kemudian, sadar kalau kuperhatikan.
“Ha? Aku nunggu hujan aja kok.”
“Hujan kok ditungguin...” Sahutnya sambil terkekeh.
“Gak lucu deh.” Jawabku ketus.
“Rumahnya dimana emangnya?”
“Deket dari sini. Males pulang.” Jawabku cepat. Ooh, aku sudah terlibat pembicaraan dengan orang yang tak dikenal! Duh, jangan sampai membocorkan identitas,nih! Belakangan kan marak berita penculikan anak sekolah!Mau pergi dari halte...tapi hujan deras bin petir belum selesai ‘manggung’ di langit sana, pikirku saat itu.
“Dek, tenang ajah. Saya teh bukan orang jahat, euy.. Cuma ngamen.” Katanya tiba-tiba, membuatku terperanjat, kaget kalau ia bisa tahu apa yang kupikirkan.
“apaan sih...Siapa juga yang mikir situ orang jahat..” Jawabku sewot.
“Eeeh, gini-gini saya juga punya Sixsen, loh!” Sixen? Itu pikirku.
“Apaan tuh?”
“Ah ndeso... Itu loh, indra keenam! Gimana anak seko....”
“Gyahahahahaha!” Kalimatnya terpotong tawaku. Aku berusaha mendekap mulutku. Mataku sampai berair dibuatnya.
“Itu mah Six Sense, kang...!” Aku membalasnya dengan menirukan logat Sunda-nya. Ia tertunduk malu.
“Aduh jangan gitu dong deek, saya teh malu..”
“Makanya jangan sok...”
Hening.
“Ujannya udah berenti tuh,... Masih ditungguin nggak?”
“Hm?Oh iyah... Yaudah, saya duluan ya, kang..” Kataku, bergegas pulang.
“oi!” Panggilnya. Aku menoleh sambil berjalan.
“Po!” teriaknya, sambil mengulurkan tangan dari jauh, seolah mengajak bersalaman.
“Allegra!” Jawabku, sambil membalas uluran tangannya;dari jauh juga tentunya.

Sesaat aku tersenyum sendiri mengenang hari itu. Hujan saat itu masih menyenangkan untukku. Pengamen bis kota itu membuatku cengar cengir saja. Bukan, bukan rasa suka. Perasaan aneh yang kudapat jika membayangkannya.
Kutatap sampul surat itu. Aku ingat, sejak saat itu, Po selalu datang lebih dulu ke halte, selama musim hujan,menungguku pulang dan duduk di halte. Ia selalu mendengarkaku bercerita, dan ia mengusir rasa kesepianku. Lama-lama aku sadar, dia bukan pengamen...maksudku, pengamen biasa. Dia tidak menyanyikan lagu, karena ia mengaku padaku bahwa ia tak bisa bermain gitar. Ia hanya asal petik cari nada, untuk mendeklamasikan sajak-sajak buatannya.

“Kau nggak bisa main gitar, Po?”
“Enggak! Sumpah!”
“Terus, untuk apa kau tenteng gitar besar itu?”
“Tentu saja, pengiring sajak buatanku.”
Aku termangu. Sajak? Artinya dia bukan pengamen, gitu? Apa iya ada yang mau dengarkan sajaknya? Hari gini? Sajak? Oh, ayolah...itu artinya dia seniman sastra?Dan bernyali mendeklamasikan sajak-sajaknya diatas bis? Untuk cari uang?
“Bukan..Bukan cari uang. Cari kepuasan. Itu ambisi saya sejak dulu.” Sahutnya tanpa kukomando. Yah dia kan punya sixen..eh, six sense, ahahaha..
“Lalu gitar itu hanya asal petik?”
“Ya... Enggak ngasal juga sih. Cari nada yang pas aja.”
“Coba dong, bacakan sajakmu!”
“Hm... Oh, aku sudah buat sajak untukmu. Dengarkan ya.”
Lalu ia siap memetik gitar,membuatku terhanyut dalam buaian nada dari senar gitar usang itu.

Tiap sore pulang tertatih-tatih
Menunggu hujan sampai letih
Tak mengapa kaki perih
Asal tak kembali ke rumah yang pedih

Ia kepayahan menahan sakit
Ia keluarkan emosi dengan pelit
Ia simpan semua pahit
Dalam dunia yang sempit

Ia diam saja disana
Duduk termangu menunggu hujan reda
Biarkan saja hujan menghancurkan semuanya,
Semua keluh kesahnya

Dan aku datang menemuinya
Menghapus semua resahnya
Menguras semua emosinya
Biarlah saja dia lega

Aku hanya bisa terdiam. Sajak untukku, ya? Cocok juga.
“Gimana?” Tanyanya.
“Apanya?”
“Sajaknya.”
“Bagus.”
“Oh ya?”
“Kenapa bisa tahu sejauh itu tentangku? Kau hanya mengenalku beberapa hari.”
“Saya teh punya Sixen, eh, Six Sense..”
“Benarkah?”
“Yes, betul banget. Tuh, saya tahu. Kamu itu kesepian dan sendirian. Karena itu kamu mau habisin waktu disini, nunggu ujan kek, nunggu ocehan saya kek, intinya kamu nggak mau pulang.”:
Aku hanya tersenyum simpul.
“Bener yah kan?”

Air mataku ingin menetes kembali. Ya, dia temanku. Yang mau menemaniku, mendengar semua keluh kesahku, tanpa pernah menyela sedikitpun, tanpa pernah membiarkanku merasa kesepian lagi.
Entahlah, ia membuatku merasa punya “teman”. Sekalipun umurnya beda jauh denganku, sekalipun ia hanya pengamen atau seniman misterius diatas bis, ia tetap membuatku merasa nyaman. Membuatku lupa akan semua kesepianku.
Sampai hari itu tiba. Hari dimana ia menghilang. Dari hidupku, dari pandanganku, dari halte bis, dari bis yang biasa ia tumpangi.Ia hilang.
Sehari sebelum ia hilang, ia datang ke halte bis. Itu untuk terakhir kalinya. Saat itu ia masih tersenyum seperti biasa. Senyum ramah yang menghangatkan hati, meskipun hujan masih turun lagi.

“Tumben cepet kelar sekolahnya, euy..”
“Hari ini guru-guru rapat, jadi kita pulang cepet deh.”
“Dek, aku udah belajar maen gitar.”
“Waah, ganti profesi jadi pengamen beneran, atuh...”
“Enggak. Aku Cuma belajar satu lagu, dan lagunya khusus buat kamu.”
“Halah...coba maenin. Lagu apaan?”

Takkan selamanya... Tangaku mendekapmu
Takkan selamanya... Raga ini menjagamu
Seperti alunan detak jantungku
Tak bertahan melawan waktu
Dan semua keindahan yang memudar
Atau Cinta yang t’lah hilang..

Tak ada yang abadi....
-Peterpan, Tak ada yang abadi-

“Po, kok nyanyinya lagu itu, sih?!”
“Ya abis lagunya bagus...”
“Trus khusus buat aku-nya dimana?”
“Nanti lah, kamu tahu.”
... Lalu hening.
“Udah lah dek, kamu pulang ajah. Aku ada urusan sebentar.”
“Enggak mau!” Jawabku, dan menggenggam tangannya. Nekat.
“Dek...”
Aku tak mau melepasnya. Aku merasakan firasat buruk. Aku tak mau ia meninggalkanku untuk kembali sendirian.
“Dek.. Sebentar aja. Aku ada urusan.”
“Besok kemari lagi, kan?”
“.......Jangan tunggu aku.”
“Tapi kamu datang, kan!? Datang!”
“hhh...Ya. Tapi jangan tunggu aku. Nanti kamu kedinginan.”

Dan sejak hari itu, aku tak pernah melihatnya lagi. Satu kalipun tidak. Hanya beberapa hari kemudian, surat ini datang padaku. Surat yang tak pernah kutahu kapan ia meletakkannya di kotak posku. Karena jelas-jelas surat ini tidak di kirim lewat pos.
Aku mengambilnya dari kotak pos saat hari hujan lagi. Hujan terakhir di musim hujan tahun itu. Aku mengambilnya. Membacanya, dan menangisinya.

Surat ini hanya sebuah tanda
Tanda untuk maaf tiada tara
Untuk engkau wahai sahabatku Allegra
Yang mau – maunya berteman dengan pengamen seperti saya

Surat ini hanya sebuah derita
Di akhir hidup seorang pengamen jelata
Yang tak pernah punya nama
Yang hanya bisa melantunkan sajak tanpa jera


Aku hanya ingin bilang
Walaupun jiwaku hilang
Duniamu akan tetap terang
Karena aku akan sinari dengan benderang


Dek, aku hanya penyair yang tak jelas
Yang tidak pernah terbatas
Tidak ada dalam dunia luas
Aku hanya orang tak jelas

Tapi aku bersyukur bertemu denganmu, kau tahu? Aku senang bisa membuat seseorang yang berhati baja seperti kamu tertawa(benar euy... Saya mah, punya Sixen, hahaha). Saya teh hanya pengamen engga jelas. Cuma orang asing. Tapi saya senang jadi teman kamu. Tapi maaf, sekarang saya harus pergi. Sudah enggak ada waktu. Makasih udah dengerin sajak-sajakku, dan jadi temanku. Aku hanya orang yang tak jelas bagimu, tapi kamu berarti untukku. Ingat itu. Keep Smiling!

Dan aku menangis. Betul, secara logika, ia hanya orang asing yang keberadaannya tak terlalu penitng di hidupku. Hanya pengamen asal lewat, dan menemuiku, berteman denganku, selama musim hujan saja. Hanya itu. Ia memang orang tak jelas. Absurd. Tapi entah mengapa, ia begitu berarti bagiku. Sangat berarti. Ia menghapus segala sepiku. Itu Po, peri hujanku.
Dan aku kembali menangis. Merindukannya. Po, pengamen tak jelas yang mengisi hidupku. Ya, saat hujan. Hanya saat hujan. Hujan, dimana perasaan semua orang dibawa menjadi melankolis, diamana semua orang merasa teraduk perasaannya, dengan seuara halilintar, dan juga suara guyuran hujan. Dan pada saat itu, ia akan datang,memetik gitarnya secara asal, dan mendeklamasikan sajak-sajaknya diatas bis. Entah untuk tujuan apa. Orang aneh yang datang dan pergi. Mengisi hidupku begitu saja, seolah melewatinya dengan mudah, padahal bekas jejak kakinya membekas dengan sangat di hatiku, sampai ke hatiku, yang paling dalam.

Lihat profil user http://www.keroro-gunsou.forumotion.com

23 Re: Gotirz Short Stories...! on Sat Jul 18, 2009 3:07 pm

Alchegga Riffame


Rainbow Teacher
Rainbow Teacher
@^: HUAAA!!! keren!! *sampe agakagak melankolis gitu bawaan nya* >_____<

“Yes, betul banget. Tuh, saya tahu. Kamu itu kesepian dan sendirian. Karena itu kamu mau habisin waktu disini, nunggu ujan kek, nunggu ocehan saya kek, intinya kamu nggak mau pulang.”

[spoiler]yeelah bukabukaan nih namanya gulingguling tau aja saia suntuk kalo dirumah xD~ gulingguling[/strike]


yeaa!! KIP SMILING! gulingguling gulingguling *sixens gulingguling wkwkwk *plak*


_________________
I'll be vacuum from FB, forum then everything related to Internet until the exams over.
But for now, you can contact me via http://plurk.com/taktepikirlagi and http://twitter.com/eggARM
Don't forget to follow :kiss:

Bless me so I can pass the National Exams brightly and enter the University I've dreamed fast :kiss:
LOVE Y'ALL and I'm so gonna miss you Sad
Lihat profil user http://twitter.com/eggARM

24 Re: Gotirz Short Stories...! Today at 1:00 pm

Sponsored content


Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik